Raja Ampat… Siapa yang belum pernah mendengar dua suku kata ini? Sebuah destinasi yang mulai masuk ke dalam daftar-tempat-tempat-yang-wajib-diselami oleh para penyelam, dan bahkan mulai dilirik oleh para wisatawan non-penyelam karena semakin maraknya promosi terhadap kepulauan yang terletak di sebelah barat Kota Sorong ini. Selama ini, Raja Ampat terkenal akan keindahan alam bawah lautnya, tapi ternyata di balik sejuta pesona lautnya yang biru, Raja Ampat juga menawarkan daya tariknya yang tak kalah menarik. It’s a one-stop entertainment place, a lot of things to do and see. Let’s see if you can resist it…
The Festival, in overview…
Di pertengahan bulan Oktober, pemerintah daerah Kabupaten Raja Ampat menggelar sebuah festival bertajuk Festival & Travel Mart Raja Ampat – sebuah acara untuk mempromosikan Raja Ampat kepada dunia. Menariknya, tidak hanya diving yang diangkat, tapi seluruh potensi yang ada di kabupaten tersebut dieksplorasi dan didorong untuk berkembang dan menjadi tambahan kekayaan bagi keragaman Indonesia.
Festival ini dibuka oleh Pak Bupati Drs. Marcus Wanma, M.Si pada hari Kamis, 20 Oktober 2011 di panggung utama Pantai WTC. Acaranya sendiri berlangsung dari tanggal 19 – 24 Oktober 2011, sementara lomba foto darat dan bawah lautnya telah dimulai sejak tanggal 15 Oktober 2011.
Para panitia telah mengemas acara ini dengan sangat baik – tarian-tarian tradisional, makanan khas daerah setepat, kerajinan hasil kreativitas penduduk lokal, semuanya disuguhkan ke depan mata kami, para tamu yang datang. Sambil menikmati semuanya itu, kami semua diajak masuk untuk mengenal Raja Ampat lebih dalam, to experience Raja Ampat inside-out.
The Dances…
Kabupaten Raja Ampat memiliki beragam tarian tradisional. Dan sebagai bagian dari Pulau Papua Barat, bersama-sama dengan daerah lain di pulau tersebut, ada beberapa tarian yang memiliki kesamaan. Sebut saja Tari Yospan – sebuah tarian pergaulan atau persahabatan, Tari Wairon – tari perang, dan Tari Kuda Lumping. Sementara tari-tarian khasnya antara lain Tari (Setan) Gemutu – sebuah tarian khas dari Pulau Misool yang biasanya dilakukan saat warga ingin melakukan pemberkatan terhadap sebuah rumah atau gedung yang baru dibangun, Tari Lalayon, Tari Lenso, Tari Akar Bone, dan masih banyak lagi.
Saya diberitahu, bahwa setiap tarian memiliki makna, maksud dan tujuan yang berbeda-beda, walaupun saya kurang memahami perbedaan gerakan antara satu tarian dan tarian lainnya, saya tetap bisa merasakan spirit, semangat, passion dari masing-masing penari – how they meant every step, every move. Rasanya seperti ingin ikut masuk ke dalam barisan dan menari bersama mereka. It’s not like waltz or any rave party, but it’s a soulful one – and it’s awesome.
The Foods…
Jalan-jalan ke daerah yang jarang dikunjungi orang dan mengeksplor kulinernya menjadi suatu tantangan tersendiri bagi saya. Apalagi jika ternyata daerah yang didatangi memiliki begitu banyak makanan khas yang jarang dijumpai di daerah lain.
Baha-baha, sagu bia kodok atau pangkoam, sinole kelapa, tumpeng papeda, insonem, bola-bola kasbi atau putri mandi, dadar gulung kasbi, sate lilit ikan, sasimi, kansing, ulat sagu dan pizza ala papua menjadi menu kami di suatu siang di Pantai WTC. *tsaaahhh
Seabrek makanan disuguhkan di hadapan kami dan semuanya – entah karena penasaran pengen nyobain atau hanya karena kelaparan – segera melahap makanan-makanan tersebut sampai habis. Habis? Yep, habis. Bahkan beberapa orang di meja kami sampai mengangkat piring kedua dan ketiga. Enak? Jangan ditanya, sensasinya seperti dibawa ke dunia lain! Apalagi kalau makannya ditemani segelas penuh es kelapa muda yang menyegarkan di tengah siang bolong. No foods like it!
The Villages…
Siapa bilang Raja Ampat is all about beach, ocean, and diving? Siapa? Siapa? Ayo ngaku! *eh kok jadi marah-marah kaya Pongo ya…*
If you are one of the believers – that Raja Ampat is all about beach, ocean, and diving – then you are definitely having a wrong belief. Banyak orang yang sudah mengetahui keindahan bawah laut Raja Ampat, begitu juga fakta beragamnya biodiversitas di dalamnya. Tapi tidak banyak yang pernah mendengar pesona yang ada di atas permukaannya. Bagian atas Kabupaten Raja Ampat tidak kalah indah dan tidak kalah memesona dibandingkan pemandangan bawah lautnya. Dan keindahan tersebut semakin dipercantik dengan adanya kampung-kampung wisata yang tersebar di kabupaten tersebut.
Pemerintah daerah Raja Ampat sedang mengupayakan pembangunan sepuluh kampung wisata di Raja Ampat, seperti Kampung Wisata Sawudarek, Kampung Wisata Arborek, dan Kampung Wisata Yenwapor. Selain membangun homestay-homestay, pemerintah juga melatih para pemuda setempat dan membekali mereka dengan beragam pelatihan seperti pelatihan menyelam dan pengajaran Bahasa Inggris, sehingga nantinya mereka semua bisa mengurus secara mandiri tamu-tamu yang datang berkunjung ke tempat mereka. Upaya ini bukan hanya salah satu cara menarik perhatian wisatawan yang bukan penyelam, tetapi juga salah satu upaya untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Raja Ampat.
The Crafts…
Selain tari-tarian dan alat musik khas yang rata-rata juga dimiliki tiap suku di Indonesia, ternyata masyarakat Raja Ampat memiliki berbagai kerajinan tangan yang juga khas. You won’t find it anywhere.
Batik Papua, gelang anyaman, noken dan koteka mungkin kerajinan khas dari Papua. Tapi Raja Ampat memiliki kerajinan lain yang lebih khas seperti Batik Raja Ampat. Batik ini memiliki 2 macam corak, yaitu corak kupu-kupu dan corak binatang-binatang laut seperti gurita, kerang, dan ikan. Ada juga bermacam-macam anyaman seperti anyaman topi, anyaman tikar, anyaman tapisan sagu – anyaman-anyaman yang dibuat oleh tangan warga setempat dari daun dan batang pohon yang telah dikeringkan. Kreativitas mereka tidak berhenti di sana, berbagai lukisan kayu dan ukir-ukiran dengan ukuran beragam juga bisa kita temukan di Raja Ampat. Dan jangan kira para wanita di Raja Ampat gak up-to-date sama yang namanya fashion. Walaupun cara bergaya mereka berbeda dengan di Jakarta, tapi untuk kalung, gelang, bahkan anting, mereka bisa menciptakan trend mereka dengan membuat dan mengukirnya sendiri. Contohnya seperti anting milik ibu editor kita ini. [attach photo: anting sikat The Ri The Riii boleh minta foto antingnya? Saya sepertinya gak foto anting itu, maap pisan. Mun teu aya, kalimatnya monggo dicoret. Nuhun.]
The People
Last but not least, semua ini ngga akan mungkin terjadi tanpa partisipasi setiap orang yang berada di dalamnya. Baik pemerintah sebagai fasilitator, baik para visioner yang memiliki sejumlah ide untuk mengembangkan daerah dengan sedemikian maksimal, baik para stakeholder yang membangun bisnis di sana, baik para anggota masyarakat yang menjadi ujung tombak dan penentu kesuksesan dan berkembangnya daerah mereka.
It’s true when you see something awesome and people say, ‘It’s about the man behind the gun.’ Partisipasi, kerjasama, komunikasi yang baik antara masyarakat dan pemerintah serta visi-misi yang sejalanlah yang membawa mereka bersama-sama menuju kesuksesan. Saya sendiri, tidak perlu meminta bukti lagi atas setiap usaha dan effort yang telah mereka lakukan, buktinya sudah jelas di hadapan saya: semakin banyak orang mendengar tentang Raja Ampat, mencari tahu Raja Ampat dan mencoba mengenalnya dengan terjun langsung ke sana.
So, dengan jelas saya bisa menyatakan, saat kita pulang ke daerah asal, kita ngga akan pulang dengan tangan kosong. Oleh-oleh yang bisa kita bawa bukan hanya baju dengan tulisan Raja Ampat di atasnya, tapi berbagai cerita, pengalaman, foto-foto dan cinderamata hasil kerajinan tangan masyarakat lokal bisa kita bawa pulang dan kita jadiin alasan untuk pamer: I’ve been to Raja Ampat, have you? :p
Bunaken… Siapapun yang mendengar kata ini, pasti langsung kepikiran sama taman laut yang berada di sebelah utara Pulau Sulawesi. Taman nasional yang berjarak sekitar 30-45 menit dari Pelabuhan Kota Manado ini mencakup lima pulau utama: Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Montehage dan Pulau Naen. Read More »
Pagi yang cerah di kawasan Sanur, taksi yang saya tumpangi berhenti di depan Hotel Puri Gopa, mata saya mencari cari sebuah plang nama. Nah, itu dia, untuk lima hari ke depan saya mengikuti kegiatan menyelam bersama D Scuba Club. Saya mengetuk perlahan, seorang pria agak besar di bagian pinggang Read More »
Siapa yang sudah pernah ke pulau ini? Belum? Harus coba! Ya.. jika kamu para para petualang dan penjelajah pulau, suka traveling dan berdomisili di wilayah Jakarta, pasti sudah tahu dengan pulau yang satu ini. Kalau belum tahu juga.. mmhhh.. *no comment Read More »
Delapan tiga puluh lima, pagi hari waktu Jakarta, pesawat Garuda Indonesia yang kami tumpangi melepaskan diri dari gravitasi. ” Ihiiiww..ke Manado kiteeeee……” , bisik Priska dengan nada paling norak yang pernah keluarkan dari bibirnya..eh..bukan deng..itu gw yang bilang gitu..hahahah , pengalihan isu dot com ;p. Read More »
Waktu pertama kali produser gw ngajakin diving trip ke bali yang gw bayangin adalah tulamben, amed atau nusa penida, tapi seperti biasa, si mr. AH bilang “nanti” aja yang itu, gw mau bawa lo diving ditempat yang lo pasti bakalan suka, dan ternyata dia gak boong, secretbay bener-bener buat gw ketagihan…… Read More »
DIVE BLOG – RAJA AMPAT : YOUR ONE STOP ENTERTAINMENT
Raja Ampat… Siapa yang belum pernah mendengar dua suku kata ini? Sebuah destinasi yang mulai masuk ke dalam daftar-tempat-tempat-yang-wajib-diselami oleh para penyelam, dan bahkan mulai dilirik oleh para wisatawan non-penyelam karena semakin maraknya promosi terhadap kepulauan yang terletak di sebelah barat Kota Sorong ini. Selama ini, Raja Ampat terkenal akan keindahan alam bawah lautnya, tapi ternyata di balik sejuta pesona lautnya yang biru, Raja Ampat juga menawarkan daya tariknya yang tak kalah menarik. It’s a one-stop entertainment place, a lot of things to do and see. Let’s see if you can resist it…
The Festival, in overview…
Di pertengahan bulan Oktober, pemerintah daerah Kabupaten Raja Ampat menggelar sebuah festival bertajuk Festival & Travel Mart Raja Ampat – sebuah acara untuk mempromosikan Raja Ampat kepada dunia. Menariknya, tidak hanya diving yang diangkat, tapi seluruh potensi yang ada di kabupaten tersebut dieksplorasi dan didorong untuk berkembang dan menjadi tambahan kekayaan bagi keragaman Indonesia.
Festival ini dibuka oleh Pak Bupati Drs. Marcus Wanma, M.Si pada hari Kamis, 20 Oktober 2011 di panggung utama Pantai WTC. Acaranya sendiri berlangsung dari tanggal 19 – 24 Oktober 2011, sementara lomba foto darat dan bawah lautnya telah dimulai sejak tanggal 15 Oktober 2011.
Para panitia telah mengemas acara ini dengan sangat baik – tarian-tarian tradisional, makanan khas daerah setepat, kerajinan hasil kreativitas penduduk lokal, semuanya disuguhkan ke depan mata kami, para tamu yang datang. Sambil menikmati semuanya itu, kami semua diajak masuk untuk mengenal Raja Ampat lebih dalam, to experience Raja Ampat inside-out.
The Dances…
Kabupaten Raja Ampat memiliki beragam tarian tradisional. Dan sebagai bagian dari Pulau Papua Barat, bersama-sama dengan daerah lain di pulau tersebut, ada beberapa tarian yang memiliki kesamaan. Sebut saja Tari Yospan – sebuah tarian pergaulan atau persahabatan, Tari Wairon – tari perang, dan Tari Kuda Lumping. Sementara tari-tarian khasnya antara lain Tari (Setan) Gemutu – sebuah tarian khas dari Pulau Misool yang biasanya dilakukan saat warga ingin melakukan pemberkatan terhadap sebuah rumah atau gedung yang baru dibangun, Tari Lalayon, Tari Lenso, Tari Akar Bone, dan masih banyak lagi.
Saya diberitahu, bahwa setiap tarian memiliki makna, maksud dan tujuan yang berbeda-beda, walaupun saya kurang memahami perbedaan gerakan antara satu tarian dan tarian lainnya, saya tetap bisa merasakan spirit, semangat, passion dari masing-masing penari – how they meant every step, every move. Rasanya seperti ingin ikut masuk ke dalam barisan dan menari bersama mereka. It’s not like waltz or any rave party, but it’s a soulful one – and it’s awesome.
The Foods…
Jalan-jalan ke daerah yang jarang dikunjungi orang dan mengeksplor kulinernya menjadi suatu tantangan tersendiri bagi saya. Apalagi jika ternyata daerah yang didatangi memiliki begitu banyak makanan khas yang jarang dijumpai di daerah lain.
Baha-baha, sagu bia kodok atau pangkoam, sinole kelapa, tumpeng papeda, insonem, bola-bola kasbi atau putri mandi, dadar gulung kasbi, sate lilit ikan, sasimi, kansing, ulat sagu dan pizza ala papua menjadi menu kami di suatu siang di Pantai WTC. *tsaaahhh
Seabrek makanan disuguhkan di hadapan kami dan semuanya – entah karena penasaran pengen nyobain atau hanya karena kelaparan – segera melahap makanan-makanan tersebut sampai habis. Habis? Yep, habis. Bahkan beberapa orang di meja kami sampai mengangkat piring kedua dan ketiga. Enak? Jangan ditanya, sensasinya seperti dibawa ke dunia lain! Apalagi kalau makannya ditemani segelas penuh es kelapa muda yang menyegarkan di tengah siang bolong. No foods like it!
The Villages…
Siapa bilang Raja Ampat is all about beach, ocean, and diving? Siapa? Siapa? Ayo ngaku! *eh kok jadi marah-marah kaya Pongo ya…*
If you are one of the believers – that Raja Ampat is all about beach, ocean, and diving – then you are definitely having a wrong belief. Banyak orang yang sudah mengetahui keindahan bawah laut Raja Ampat, begitu juga fakta beragamnya biodiversitas di dalamnya. Tapi tidak banyak yang pernah mendengar pesona yang ada di atas permukaannya. Bagian atas Kabupaten Raja Ampat tidak kalah indah dan tidak kalah memesona dibandingkan pemandangan bawah lautnya. Dan keindahan tersebut semakin dipercantik dengan adanya kampung-kampung wisata yang tersebar di kabupaten tersebut.
Pemerintah daerah Raja Ampat sedang mengupayakan pembangunan sepuluh kampung wisata di Raja Ampat, seperti Kampung Wisata Sawudarek, Kampung Wisata Arborek, dan Kampung Wisata Yenwapor. Selain membangun homestay-homestay, pemerintah juga melatih para pemuda setempat dan membekali mereka dengan beragam pelatihan seperti pelatihan menyelam dan pengajaran Bahasa Inggris, sehingga nantinya mereka semua bisa mengurus secara mandiri tamu-tamu yang datang berkunjung ke tempat mereka. Upaya ini bukan hanya salah satu cara menarik perhatian wisatawan yang bukan penyelam, tetapi juga salah satu upaya untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Raja Ampat.
The Crafts…
Selain tari-tarian dan alat musik khas yang rata-rata juga dimiliki tiap suku di Indonesia, ternyata masyarakat Raja Ampat memiliki berbagai kerajinan tangan yang juga khas. You won’t find it anywhere.
Batik Papua, gelang anyaman, noken dan koteka mungkin kerajinan khas dari Papua. Tapi Raja Ampat memiliki kerajinan lain yang lebih khas seperti Batik Raja Ampat. Batik ini memiliki 2 macam corak, yaitu corak kupu-kupu dan corak binatang-binatang laut seperti gurita, kerang, dan ikan. Ada juga bermacam-macam anyaman seperti anyaman topi, anyaman tikar, anyaman tapisan sagu – anyaman-anyaman yang dibuat oleh tangan warga setempat dari daun dan batang pohon yang telah dikeringkan. Kreativitas mereka tidak berhenti di sana, berbagai lukisan kayu dan ukir-ukiran dengan ukuran beragam juga bisa kita temukan di Raja Ampat. Dan jangan kira para wanita di Raja Ampat gak up-to-date sama yang namanya fashion. Walaupun cara bergaya mereka berbeda dengan di Jakarta, tapi untuk kalung, gelang, bahkan anting, mereka bisa menciptakan trend mereka dengan membuat dan mengukirnya sendiri. Contohnya seperti anting milik ibu editor kita ini. [attach photo: anting sikat The Ri The Riii boleh minta foto antingnya? Saya sepertinya gak foto anting itu, maap pisan. Mun teu aya, kalimatnya monggo dicoret.
Nuhun.]
The People
Last but not least, semua ini ngga akan mungkin terjadi tanpa partisipasi setiap orang yang berada di dalamnya. Baik pemerintah sebagai fasilitator, baik para visioner yang memiliki sejumlah ide untuk mengembangkan daerah dengan sedemikian maksimal, baik para stakeholder yang membangun bisnis di sana, baik para anggota masyarakat yang menjadi ujung tombak dan penentu kesuksesan dan berkembangnya daerah mereka.
It’s true when you see something awesome and people say, ‘It’s about the man behind the gun.’ Partisipasi, kerjasama, komunikasi yang baik antara masyarakat dan pemerintah serta visi-misi yang sejalanlah yang membawa mereka bersama-sama menuju kesuksesan. Saya sendiri, tidak perlu meminta bukti lagi atas setiap usaha dan effort yang telah mereka lakukan, buktinya sudah jelas di hadapan saya: semakin banyak orang mendengar tentang Raja Ampat, mencari tahu Raja Ampat dan mencoba mengenalnya dengan terjun langsung ke sana.
So, dengan jelas saya bisa menyatakan, saat kita pulang ke daerah asal, kita ngga akan pulang dengan tangan kosong. Oleh-oleh yang bisa kita bawa bukan hanya baju dengan tulisan Raja Ampat di atasnya, tapi berbagai cerita, pengalaman, foto-foto dan cinderamata hasil kerajinan tangan masyarakat lokal bisa kita bawa pulang dan kita jadiin alasan untuk pamer: I’ve been to Raja Ampat, have you? :p
Related Posts
DIVE BLOG : Bunaken, The Wall of Surprises
Bunaken… Siapapun yang mendengar kata ini, pasti langsung kepikiran sama taman laut yang berada di sebelah utara Pulau Sulawesi. Taman nasional yang berjarak sekitar 30-45 menit dari Pelabuhan Kota Manado ini mencakup lima pulau utama: Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Montehage dan Pulau Naen. Read More »
DIVE BLOG : Mola Cabbana
Pagi yang cerah di kawasan Sanur, taksi yang saya tumpangi berhenti di depan Hotel Puri Gopa, mata saya mencari cari sebuah plang nama. Nah, itu dia, untuk lima hari ke depan saya mengikuti kegiatan menyelam bersama D Scuba Club. Saya mengetuk perlahan, seorang pria agak besar di bagian pinggang Read More »
DIVE BLOG : SISI EKSOTIS KOTA JAKARTA
Siapa yang sudah pernah ke pulau ini? Belum? Harus coba! Ya.. jika kamu para para petualang dan penjelajah pulau, suka traveling dan berdomisili di wilayah Jakarta, pasti sudah tahu dengan pulau yang satu ini. Kalau belum tahu juga.. mmhhh.. *no comment Read More »
DIVE BLOG MANADO
Delapan tiga puluh lima, pagi hari waktu Jakarta, pesawat Garuda Indonesia yang kami tumpangi melepaskan diri dari gravitasi. ” Ihiiiww..ke Manado kiteeeee……” , bisik Priska dengan nada paling norak yang pernah keluarkan dari bibirnya..eh..bukan deng..itu gw yang bilang gitu..hahahah , pengalihan isu dot com ;p. Read More »
DIVE BLOG : BALI
Waktu pertama kali produser gw ngajakin diving trip ke bali yang gw bayangin adalah tulamben, amed atau nusa penida, tapi seperti biasa, si mr. AH bilang “nanti” aja yang itu, gw mau bawa lo diving ditempat yang lo pasti bakalan suka, dan ternyata dia gak boong, secretbay bener-bener buat gw ketagihan…… Read More »