Pagi yang cerah di kawasan Sanur, taksi yang saya tumpangi berhenti di depan Hotel Puri Gopa, mata saya mencari cari sebuah plang nama. Nah, itu dia, untuk lima hari ke depan saya mengikuti kegiatan menyelam bersama D Scuba Club. Saya mengetuk perlahan, seorang pria agak besar di bagian pinggang ( ini udah yang paling sopan ya istilahnya..hahhaha), berkacamata, dengan senyum mengembang menyambut saya. Erwin Kodiat , instruktur selam sekaligus pemilik dan pengelola D Scuba Club yang menyambut saya hari itu.
Baru saja mendaratkan badan di ruangan bagian atas kantor D Scuba Club, tiba -tiba Erwin sudah mengeluarkan kamera.. Waahh foto-fotooo..asiiikkk..jeprat jepret.. Lima menit kemudian, tau -tau Erwin menyerahkan kartu member D Scuba Club , “Kalau jadi member bisa dapat diskon di hotel-hotel rekanan di kawasan Sanur sama dive shop di Bali, Ri..”. Waaa…kirain cuma jeprat jpret foto biasa, tau gitu posenya yang lebih manis dikit..hahhah..but its a good deal, paling gw selotip aja foto bagian muka gw..nyiahaha *tawa licik.
Pada trip kali ini, bukan saya sendiri, tapi kurang lebih ada 40 penyelam lain yang tergabung dalam klub Kapal Selam yang akan ikut bersama. Bareng – bareng ngarep ketemu Mola -mola yang jadi idaman di tiap bulan Juli -Agustus di kawasan Nusa Penida. Para penyelam ini nantinya akan dibagi dalam beberapa kelompok mengitari perairan kawasan di Amed dan Nusa Penida. Dari daftar nama peserta terselip si bahenol Denada dan Jerry Aurum (yang ini ga terlalu bahenol ), bahkan kebanyakan peserta ada yang berdomisili di Singapura, Malaysia bahkan Australia. Rame ajah..
Dive hari pertama .
Saya bergabung bersama David Leksono,instruktur dari D Scuba Club, Robert Ottilie yang montok pemilik Nemo Wetsuit, The Hot Mama Evelyn, The All You Can Eat Mama Irene, dan beberapa rekan lainnya yang ganteng dan cuantik-cuantik. Dalam pejalanan menuju Manta Point, rasanya agak jiper juga melihat peralatan perang yang hampir kesemuanya menggunakan BCD back bouyance yang dibawa oleh teteh- teteh dan akang-akang penyelam ini. Seriuuuss bener.. “Om David, ini peserta trip kali ini ada yang newbie ga sih? ” , “Kalau D Scuba Club fokus utamanya di pasar Advance adventure diver, Ri. Terutama karena kawasan Nusa Penida memiliki karakter yang khas, dengan perputaran arus yang sering kali tidak bisa ditebak bahkan saat kita sudah mengikuti tabel pasang surut. Makanya kebutuhan pengalaman dan kemampuan teknik dari penyelam dalam tingkatan advance cukup diperlukan untuk bisa menikmati kawasan ini dengan aman,nyaman dan total.” ..i see..masa’ sih segitu khususnya karakter disini.
Tiba di Manta point, kami langsung bersiap menggunakan peralatan, dengan santai, back roll dari perahu, tiba-tiba ” F**k duiiinggiiinnn..hadooohhh!,” , tak ada satu pun dari kami yang tidak berteriak heboh ketika menyentuh air, minimal mukanya kaget lah. Betapa tidak, begitu melirik ke dive com, saudara-saudara, suhu di permukaan air saja sudah 23 derajat! Sebelumnya David merencanakan lama penyelaman cukup 30 menit saja dengan kedalaman maksimal 15 meter, tapi akan memperlama penyelaman jika Manta muncul. Berbekal wetsuit 3mm dan rash guard ternyata bagaikan sekedar pakai baju renang masuk ke dalam kulkas. Sesekali saya melirik dive com, 21, 20 , hingga suhu terendah18 derajaat!! Mau selimuuutt…!!! Sambil terbawa arus dari ombak karena lokasi cleaning station Manta yang berada cukup dekat dengan tebing di daratan, kami menanti sambil mengempitkan kedua telapak tangan menahan dingin..dan itu diaa..!! Dua ekor pari Manta berenang menghampiri.. Waaa..akhirnyaa.. Antara senang dan sebel, saya bersusah payah mengabadikan kenangan tersebut dalam memori saya. Senang, ya pasti karena Mantanya ketemu, sebel karena berarti kami akan menghabiskan waktu lebih lama dari 30 menit di suhu air yang bikin kisut, tetap masih dingin walaupun sudah dengan bantuan kehangatan pipis di dalam wetsuit..huahahahha.. Tapi disinilah pengalaman menyelam diuji, selain menahan dingin, mengendalikan tubuh yang terbawa arus hempasan ombak, rasanya benar- benar bertualang.
Entah berapa ekor Manta yang berenang berputar, menjauh dan kembali lagi, menyaring plankton dari air yang berarus cukup kencang, rasanya konsentrasi saya sudah tertuju pada belas kasihan sinar matahari Nusa Penida. Akhirnya.. Setelah 56 menit, kami bergegas dengan senyum mengembang dan ujung jari yang keriput. Next destination : Crystal Bay. Target : Mola-mola.
Mencelupkan tubuh kami di dive kedua dengan hati agak deg-degan, maklum, air dingin sebelumnya agak bikin trauma rama gimana gituuh..Ternyata perairan disini jauh lebih bersahabat. Yaa minimal penunjuk suhu di dive computer ga pernah kurang dari 23 derajat.Rise and shine Molas, here we coome..!
Mola-mola alias sunfish ini biasa muncul di bulan Agustus. Tapi dua tahun terakhir ini, justru hadir lebih awal mulai di akhir bulan April. Penyelam dari seluruh penjuru dunia datang menyelam di kawasan Nusa Penida, terutama Crystal Bay untuk bisa berjumpa dengannya. Biasa tinggal di perairan kedalaman 100 meteran dengan suhu rata-rata 10 derajat, ternyata makanan Mola bukanlah cumi-cumi raksasa atau hewan laut dalam ukuran fantastis lainnya. Makanan utamanya adalah ubur-ubur. Karena hanya mengandung sedikit nutrisi, Mola-mola harus menyantapnya dalam jumlah sangat banyak. Makanya tidak jarang terdengar kasus Mola-mola yang mati tersedak akibat sampah plastik yang ia kira makanannya. Keunikan lain dari Mola adalah perkembangan besar tubuhnya. Dari ukuran tidak sampai satu sentimeter ketika baru menetas, bisa sebesar 1,8 meter dalam waktu 15 bulan saja! Mola-mola berenang ke permukaan air yang lebih dangkal untuk menghilangkan parasit mirip cacing yang menempel ada tubuhnya. Tidak hanya mengandalkan para ikan karang untuk menyikat habis si parasit, sering juga ditemui Mola yang sunbathing di permukaan air. Yaa gitu deh jadinya. Tiduran miring..selesai satu bagian ,balik ke bagian lain untuk dijemur. Ada juga yang senang melompat dan menghempaskan badannya ke permukaan air untuk menyingkirkan para parasit bandel, atau mungkin bisa juga dia adalah m0£4 4L4¥ yang lagi cari perhatian biar eksis..hahahha
Back to the dive.
Byurr!
Hanya butuh waktu 7 menit pertama penyelaman akhirnya kami melihat sekilas bayangan Mola – mola di kedalaman 30 meteran. Dari ukurannya yang sekitar 1,5-1,8 meter, tampaknya ini adalah Mola ABG. Kami menahan diri untuk tetap berada pada posisi yang tidak terlalu dekat, semua kan mau lihat juga. Sayangnya, ga semua punya pikiran yang sama, kami memperhatikan para penyelam lain yang mulai mendekat dengan terburu-buru. Biasanya Mola-mola tidak terlalu merasa terganggu jika didekati penyelam , terutama kalau doi sudah asyik dikerubungi oleh banner fishes yang membantu menghabisi parasit pada permukaan kulitnya. Tapi, banyak penyelam karena euphoria langsung berenang mendekat, akibatnya biasanya ada dua, mola molanya ngibrit atau berenang ke perairan yang lebih dalam. Kali ini mola-molanya ngibrit ke tempat makin dalam, lengkap deh. Penonton kuciwa… ..
Tidak ada pelajaran yang tidak bisa diambil dari pengalaman, namanya juga mahluk hidup pasti bergerak lah, tapi ketidaksabaran lebih sering mengakibatkan kesusahan. Cateeet yak cyiiin… Sambil manyun kami semua kembali ke perahu. Bersiap siap untuk dive sites selanjutnya dalam beberapa hari ke depan. Target : always Mola -mola.
Beberapa hari berikutnya kami disibukan dengan penampakan satu dua ekor Mola mola di hampir setiap penyelaman. Paling sering tentunya di kawasan Crystal Bay. Rekan – rekan satu grup yang sama -sama menyelam bareng D Scuba juga kebagian gilirannya. Hingga pada suatu pagi yang agak mendung, di saat pilek mulai menyerang akibat bolak balik nyemplung di air sejuk, ada sejarah yang tercatat. Jreng jreeng..
15 Agustus, dua hari dari purnama penuh, hari ketika saya memutuskan mau leyeh-leyeh aja di boat daripada menyelam akibat hidung mulai meler. Hari dimana saya tiba -tiba merasa hanya ingin diving di dive ketiga, kembali di Crystal Bay. Hanya di dive ketiga saja..ja..ja..ja.. *gema. Dan nyemplunglah saya sambil agak ogah-ogahan. Mengkicking dengan malas-malasan, sambil tiba -tiba mata saya dan teman -teman lain tertuju pada ikan bundar. Mola-mola lagi! Tapi ukurannya jauh lebih besar dari mola-mola ABG yang kami temui beberapa hari terakhir ini. Mungkin dengan lebar lebih dari 3 meter. Sudah santai dengan banner fishesnya, dan kami pun berenang di jarak yang cukup supaya sang Mola merasa cukup nyaman. Pinneng segera beraksi, mendekat perlahan, mengambil beberapa foto, sementara kami menonton dengan takjub. Tak lama kemudian, David menunjuk ke satu arah yang berlawanan. Omegoooooottt…itu ada rombongan Mola lewat!! Ada empat, lima, enam, nah loh…tujuh Mola berenang beriringan di kedalaman maksimal 35 meter, sementara kami menyaksikan dengan sumringah di kedalaman 25 meter. Yang bikin tambah ekslusif, hanya grup kami saja yang berada di TKP, menikmati rombongan Mola aneka corak dan ukuran. Tujuh, delapan, akhirnya total dua belas ekor Mola-mola yang bekeliaran dalam satu waktu! Baru kali ini ketemu Mola yang lebih banyak ikannya daripada penyelamnya. Kereeenn! Alhamdulillah yah.. :p
Bagaikan murid teladan yang patuh, kami tetap tenang berada di posisi kami masing-masing,terdiam dan sesekali mengabadikan dengan kamera saku. Di titik inilah saya kembali teringat obrolan dengan David, bahwa salah satu bagian dari gaya advance adventure diver adalah rasa tanggung jawab terhadap tujuan bersama, tujuannya mau liat Mola, ya kelakuan terburu-buru akibat euphoria yang harus ditahan, supaya semua bisa menikmati. Mata kami kembali mengamati para Mola yang sedang berleha-leha parkir sambil spa Banner fish, beberapa di antara mereka bahkan berenang cuek hingga jarak tidak sampai 5 meter ! Tidak tahu kapan peristiwa sama akan bisa terulang.
This is the best Mola Dive ever! Sudah terbayang di kepala saya, malamnya pasti kami akan bersulang gembira : For the 12 Molas!
Bicara destinasi wisata bahari, membayangkan laut biru, pantai cantik, penghuni laut yang beragam hingga eksotika langit biru, jarang sekali yang langsung bisa menjawab dengan nama-nama lokasi yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Apa lagi kalau pertanyaannya adalah lokasi selam di Jawa Barat. Read More »
Siapa yang sudah pernah ke pulau ini? Belum? Harus coba! Ya.. jika kamu para para petualang dan penjelajah pulau, suka traveling dan berdomisili di wilayah Jakarta, pasti sudah tahu dengan pulau yang satu ini. Kalau belum tahu juga.. mmhhh.. *no comment Read More »
Waktu pertama kali produser gw ngajakin diving trip ke bali yang gw bayangin adalah tulamben, amed atau nusa penida, tapi seperti biasa, si mr. AH bilang “nanti” aja yang itu, gw mau bawa lo diving ditempat yang lo pasti bakalan suka, dan ternyata dia gak boong, secretbay bener-bener buat gw ketagihan…… Read More »
Why un-ordinary dive? karena diving yang satu ini memang berbeda..saangat berbeda dari sudut pandang saya sebagai diver jelata.
Trip diving kali ini adalah di Provinsi Maluku Utara, rencananya kita akan berangkat ke Kepulauan Gura Ici di Kabupaten Halmahera Selatan dan Morotai untuk diving. Read More »
DIVE BLOG : Mola Cabbana
Pagi yang cerah di kawasan Sanur, taksi yang saya tumpangi berhenti di depan Hotel Puri Gopa, mata saya mencari cari sebuah plang nama. Nah, itu dia, untuk lima hari ke depan saya mengikuti kegiatan menyelam bersama D Scuba Club. Saya mengetuk perlahan, seorang pria agak besar di bagian pinggang ( ini udah yang paling sopan ya istilahnya..hahhaha), berkacamata, dengan senyum mengembang menyambut saya. Erwin Kodiat , instruktur selam sekaligus pemilik dan pengelola D Scuba Club yang menyambut saya hari itu.
Baru saja mendaratkan badan di ruangan bagian atas kantor D Scuba Club, tiba -tiba Erwin sudah mengeluarkan kamera.. Waahh foto-fotooo..asiiikkk..jeprat jepret.. Lima menit kemudian, tau -tau Erwin menyerahkan kartu member D Scuba Club , “Kalau jadi member bisa dapat diskon di hotel-hotel rekanan di kawasan Sanur sama dive shop di Bali, Ri..”. Waaa…kirain cuma jeprat jpret foto biasa, tau gitu posenya yang lebih manis dikit..hahhah..but its a good deal, paling gw selotip aja foto bagian muka gw..nyiahaha *tawa licik.
Pada trip kali ini, bukan saya sendiri, tapi kurang lebih ada 40 penyelam lain yang tergabung dalam klub Kapal Selam yang akan ikut bersama. Bareng – bareng ngarep ketemu Mola -mola yang jadi idaman di tiap bulan Juli -Agustus di kawasan Nusa Penida. Para penyelam ini nantinya akan dibagi dalam beberapa kelompok mengitari perairan kawasan di Amed dan Nusa Penida. Dari daftar nama peserta terselip si bahenol Denada dan Jerry Aurum (yang ini ga terlalu bahenol ), bahkan kebanyakan peserta ada yang berdomisili di Singapura, Malaysia bahkan Australia. Rame ajah..
Dive hari pertama .
Saya bergabung bersama David Leksono,instruktur dari D Scuba Club, Robert Ottilie yang montok pemilik Nemo Wetsuit, The Hot Mama Evelyn, The All You Can Eat Mama Irene, dan beberapa rekan lainnya yang ganteng dan cuantik-cuantik. Dalam pejalanan menuju Manta Point, rasanya agak jiper juga melihat peralatan perang yang hampir kesemuanya menggunakan BCD back bouyance yang dibawa oleh teteh- teteh dan akang-akang penyelam ini. Seriuuuss bener.. “Om David, ini peserta trip kali ini ada yang newbie ga sih? ” , “Kalau D Scuba Club fokus utamanya di pasar Advance adventure diver, Ri. Terutama karena kawasan Nusa Penida memiliki karakter yang khas, dengan perputaran arus yang sering kali tidak bisa ditebak bahkan saat kita sudah mengikuti tabel pasang surut. Makanya kebutuhan pengalaman dan kemampuan teknik dari penyelam dalam tingkatan advance cukup diperlukan untuk bisa menikmati kawasan ini dengan aman,nyaman dan total.” ..i see..masa’ sih segitu khususnya karakter disini.
Tiba di Manta point, kami langsung bersiap menggunakan peralatan, dengan santai, back roll dari perahu, tiba-tiba ” F**k duiiinggiiinnn..hadooohhh!,” , tak ada satu pun dari kami yang tidak berteriak heboh ketika menyentuh air, minimal mukanya kaget lah. Betapa tidak, begitu melirik ke dive com, saudara-saudara, suhu di permukaan air saja sudah 23 derajat! Sebelumnya David merencanakan lama penyelaman cukup 30 menit saja dengan kedalaman maksimal 15 meter, tapi akan memperlama penyelaman jika Manta muncul. Berbekal wetsuit 3mm dan rash guard ternyata bagaikan sekedar pakai baju renang masuk ke dalam kulkas. Sesekali saya melirik dive com, 21, 20 , hingga suhu terendah18 derajaat!! Mau selimuuutt…!!! Sambil terbawa arus dari ombak karena lokasi cleaning station Manta yang berada cukup dekat dengan tebing di daratan, kami menanti sambil mengempitkan kedua telapak tangan menahan dingin..dan itu diaa..!! Dua ekor pari Manta berenang menghampiri.. Waaa..akhirnyaa.. Antara senang dan sebel, saya bersusah payah mengabadikan kenangan tersebut dalam memori saya. Senang, ya pasti karena Mantanya ketemu, sebel karena berarti kami akan menghabiskan waktu lebih lama dari 30 menit di suhu air yang bikin kisut, tetap masih dingin walaupun sudah dengan bantuan kehangatan pipis di dalam wetsuit..huahahahha.. Tapi disinilah pengalaman menyelam diuji, selain menahan dingin, mengendalikan tubuh yang terbawa arus hempasan ombak, rasanya benar- benar bertualang.
Entah berapa ekor Manta yang berenang berputar, menjauh dan kembali lagi, menyaring plankton dari air yang berarus cukup kencang, rasanya konsentrasi saya sudah tertuju pada belas kasihan sinar matahari Nusa Penida. Akhirnya.. Setelah 56 menit, kami bergegas dengan senyum mengembang dan ujung jari yang keriput. Next destination : Crystal Bay. Target : Mola-mola.
Mencelupkan tubuh kami di dive kedua dengan hati agak deg-degan, maklum, air dingin sebelumnya agak bikin trauma rama gimana gituuh..Ternyata perairan disini jauh lebih bersahabat. Yaa minimal penunjuk suhu di dive computer ga pernah kurang dari 23 derajat.Rise and shine Molas, here we coome..!
Mola-mola alias sunfish ini biasa muncul di bulan Agustus. Tapi dua tahun terakhir ini, justru hadir lebih awal mulai di akhir bulan April. Penyelam dari seluruh penjuru dunia datang menyelam di kawasan Nusa Penida, terutama Crystal Bay untuk bisa berjumpa dengannya. Biasa tinggal di perairan kedalaman 100 meteran dengan suhu rata-rata 10 derajat, ternyata makanan Mola bukanlah cumi-cumi raksasa atau hewan laut dalam ukuran fantastis lainnya. Makanan utamanya adalah ubur-ubur. Karena hanya mengandung sedikit nutrisi, Mola-mola harus menyantapnya dalam jumlah sangat banyak. Makanya tidak jarang terdengar kasus Mola-mola yang mati tersedak akibat sampah plastik yang ia kira makanannya. Keunikan lain dari Mola adalah perkembangan besar tubuhnya. Dari ukuran tidak sampai satu sentimeter ketika baru menetas, bisa sebesar 1,8 meter dalam waktu 15 bulan saja! Mola-mola berenang ke permukaan air yang lebih dangkal untuk menghilangkan parasit mirip cacing yang menempel ada tubuhnya. Tidak hanya mengandalkan para ikan karang untuk menyikat habis si parasit, sering juga ditemui Mola yang sunbathing di permukaan air. Yaa gitu deh jadinya. Tiduran miring..selesai satu bagian ,balik ke bagian lain untuk dijemur. Ada juga yang senang melompat dan menghempaskan badannya ke permukaan air untuk menyingkirkan para parasit bandel, atau mungkin bisa juga dia adalah m0£4 4L4¥ yang lagi cari perhatian biar eksis..hahahha
Back to the dive.
..
Byurr!
Hanya butuh waktu 7 menit pertama penyelaman akhirnya kami melihat sekilas bayangan Mola – mola di kedalaman 30 meteran. Dari ukurannya yang sekitar 1,5-1,8 meter, tampaknya ini adalah Mola ABG. Kami menahan diri untuk tetap berada pada posisi yang tidak terlalu dekat, semua kan mau lihat juga. Sayangnya, ga semua punya pikiran yang sama, kami memperhatikan para penyelam lain yang mulai mendekat dengan terburu-buru. Biasanya Mola-mola tidak terlalu merasa terganggu jika didekati penyelam , terutama kalau doi sudah asyik dikerubungi oleh banner fishes yang membantu menghabisi parasit pada permukaan kulitnya. Tapi, banyak penyelam karena euphoria langsung berenang mendekat, akibatnya biasanya ada dua, mola molanya ngibrit atau berenang ke perairan yang lebih dalam. Kali ini mola-molanya ngibrit ke tempat makin dalam, lengkap deh. Penonton kuciwa…
Tidak ada pelajaran yang tidak bisa diambil dari pengalaman, namanya juga mahluk hidup pasti bergerak lah, tapi ketidaksabaran lebih sering mengakibatkan kesusahan. Cateeet yak cyiiin… Sambil manyun kami semua kembali ke perahu. Bersiap siap untuk dive sites selanjutnya dalam beberapa hari ke depan. Target : always Mola -mola.
Beberapa hari berikutnya kami disibukan dengan penampakan satu dua ekor Mola mola di hampir setiap penyelaman. Paling sering tentunya di kawasan Crystal Bay. Rekan – rekan satu grup yang sama -sama menyelam bareng D Scuba juga kebagian gilirannya. Hingga pada suatu pagi yang agak mendung, di saat pilek mulai menyerang akibat bolak balik nyemplung di air sejuk, ada sejarah yang tercatat. Jreng jreeng..
15 Agustus, dua hari dari purnama penuh, hari ketika saya memutuskan mau leyeh-leyeh aja di boat daripada menyelam akibat hidung mulai meler. Hari dimana saya tiba -tiba merasa hanya ingin diving di dive ketiga, kembali di Crystal Bay. Hanya di dive ketiga saja..ja..ja..ja.. *gema. Dan nyemplunglah saya sambil agak ogah-ogahan. Mengkicking dengan malas-malasan, sambil tiba -tiba mata saya dan teman -teman lain tertuju pada ikan bundar. Mola-mola lagi! Tapi ukurannya jauh lebih besar dari mola-mola ABG yang kami temui beberapa hari terakhir ini. Mungkin dengan lebar lebih dari 3 meter. Sudah santai dengan banner fishesnya, dan kami pun berenang di jarak yang cukup supaya sang Mola merasa cukup nyaman. Pinneng segera beraksi, mendekat perlahan, mengambil beberapa foto, sementara kami menonton dengan takjub. Tak lama kemudian, David menunjuk ke satu arah yang berlawanan. Omegoooooottt…itu ada rombongan Mola lewat!! Ada empat, lima, enam, nah loh…tujuh Mola berenang beriringan di kedalaman maksimal 35 meter, sementara kami menyaksikan dengan sumringah di kedalaman 25 meter. Yang bikin tambah ekslusif, hanya grup kami saja yang berada di TKP, menikmati rombongan Mola aneka corak dan ukuran. Tujuh, delapan, akhirnya total dua belas ekor Mola-mola yang bekeliaran dalam satu waktu! Baru kali ini ketemu Mola yang lebih banyak ikannya daripada penyelamnya. Kereeenn! Alhamdulillah yah.. :p
Bagaikan murid teladan yang patuh, kami tetap tenang berada di posisi kami masing-masing,terdiam dan sesekali mengabadikan dengan kamera saku. Di titik inilah saya kembali teringat obrolan dengan David, bahwa salah satu bagian dari gaya advance adventure diver adalah rasa tanggung jawab terhadap tujuan bersama, tujuannya mau liat Mola, ya kelakuan terburu-buru akibat euphoria yang harus ditahan, supaya semua bisa menikmati. Mata kami kembali mengamati para Mola yang sedang berleha-leha parkir sambil spa Banner fish, beberapa di antara mereka bahkan berenang cuek hingga jarak tidak sampai 5 meter ! Tidak tahu kapan peristiwa sama akan bisa terulang.
This is the best Mola Dive ever! Sudah terbayang di kepala saya, malamnya pasti kami akan bersulang gembira : For the 12 Molas!
Related Posts
DIVEMAG #18
Bicara destinasi wisata bahari, membayangkan laut biru, pantai cantik, penghuni laut yang beragam hingga eksotika langit biru, jarang sekali yang langsung bisa menjawab dengan nama-nama lokasi yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Apa lagi kalau pertanyaannya adalah lokasi selam di Jawa Barat. Read More »
DIVE BLOG : SISI EKSOTIS KOTA JAKARTA
Siapa yang sudah pernah ke pulau ini? Belum? Harus coba! Ya.. jika kamu para para petualang dan penjelajah pulau, suka traveling dan berdomisili di wilayah Jakarta, pasti sudah tahu dengan pulau yang satu ini. Kalau belum tahu juga.. mmhhh.. *no comment Read More »
DIVE BLOG : BALI
Waktu pertama kali produser gw ngajakin diving trip ke bali yang gw bayangin adalah tulamben, amed atau nusa penida, tapi seperti biasa, si mr. AH bilang “nanti” aja yang itu, gw mau bawa lo diving ditempat yang lo pasti bakalan suka, dan ternyata dia gak boong, secretbay bener-bener buat gw ketagihan…… Read More »
DIVE EVENT : JAIHO JAILOLO
Teluk Jailolo adalah salah satu dari ratusan teluk di Indonesia yang menawarkan berjuta keindahan dan keunikan bahari yang beragam. Read More »
UN-ORDINARY DIVE
Why un-ordinary dive? karena diving yang satu ini memang berbeda..saangat berbeda dari sudut pandang saya sebagai diver jelata.
Trip diving kali ini adalah di Provinsi Maluku Utara, rencananya kita akan berangkat ke Kepulauan Gura Ici di Kabupaten Halmahera Selatan dan Morotai untuk diving. Read More »