
Sejak setahun sebelum akhirnya diadakan Sail Banda, gaungnya memang sudah kemana-mana. Promo event besar-besaran yang meliputi rally yacht dari Darwin hingga lomba orientasi bawah air, dari datangnya Presiden hingga maraknya pembangunan hotel-hotel di kota Ambon, dari simposium internasional hingga kegiatan awareness di kampus oleh COREMAP II, tumplek plek dalam kurun waktu cukup singkat di antara kelebatan hujan deras dan ombak tinggi bulan Agustus.
Penerbangan dari Jakarta pada malam hari ternyata bukanlah halangan terbesar untuk bisa ikutan di event seru ini. Halangan terbesar ternyata didapat ketika sampai di Ambon : hotel PENUH!! Bayangkan saja, Ambon yang tiba-tiba semarak dengan belasan gedung hotel baru bisa sampai kehabisan kamar ! Lemes rasanya, membayangkan kasur empuk untuk rehat sejenak agak sedikit buyar, apalagi mengingat adanya surat edaran dari Sekda yang sempat “ menghimbau” pihak manajemen hotel-hotel di Ambon untuk mengosongkan kamar-kamar dikarenakan adanya tamu-tamu penting untuk kegiatan tersebut. Man..i wish I was the VIP person..uh..
Tapi ternyata doa memelas saya hari itu terwujud. Tersisa juga sebuah kamar hotel di hotel Mutiara yang letaknya cukup strategis di tengah kota. Sebuah kamar apik dan TV mungil menyambut kedatangan saya. Setelah penerbangan lumayan bikin lapar , rasanya room service adalah yang paling tepat. Setelah pembicaraan singkat dengan salah seorang staff hotel, jadilah saya memesan Sukun Gula dan Kasbi Goreng ditambah teh hangat sebagai pelengkap.
Tidak ada yang aneh dengan sukun gula, sukun yang digoreng setengah kering dan disiram dengan gula aren cair nan kental. Itu yang saya kira sebelum melumat habis sukun-sukun malang tersebut, ternyata rasanyaa…HWWWAADADDDDUUUHHHHH…NIKKMMEEEEHHHH!!! Daging sukun yang empuk dan lembut, dibalut bagian luar sukun yang sudah digoreng agak kering, wanginya yang khas dihiasi dengan aroma gula aren..gimana ga langsung ludes itu 6 potong sukun dalam waktu kurang dari 5 menit??!!! Kalap judulnya…hahahha.. sambil menarik nafas, saya mulai melirik si kasbi goreng yang mulai tampak ketakutan. Hap hap… kasbi alias singkong yg digoreng ini ga kalah dashyat, apalagi ditambah dengan sambal goreng tomat sebagai cocolannya..!! Ampuunnn… belum selesai kasbi, saya sudah pesan sukun gula satu porsi lagi…panic dot com deh..hahhaa…
Tangan masih belepotan gula aren, seorang rekan tiba-tiba mengingatkan waktunya untuk jalan-jalan di sekitar Ambon. Segera bergegas merapikan diri sedikit, saya pun segera melesat memasuki mobil. Rencananya kami akan berkunjung ke pantai Natsepa, sambil makan rujak (makan lagiii??)nangkring deh disana , tapi ternyata cuaca Ambon di Agustus ini emang sedang kacau-kacaunya, belum lagi kegiatan perbaikan fasilitas pantai yang membatalkan niat kami berkunjung ke Natsepa. Jadilah untuk mengobati patah hati, kami belok ke kawasan kota nongkrong di warung kopi Sibu-sibu, one of my favourite place in Ambon.
Tapi sudahlah, gaya pesimis dan pengeluh sebenarnya bukan gaya saya, jadi mendingan kita berdoa aja..minimal bisa ketemu sama maskotnya si Sail Banda: Mandarin Fish bongsor .
Adalah sebuah Nudibranch ( habisnya ga ada ekornya jadi bukan seekor dong.. ;p ) dengan merk Chromodoris kunei yang sedang asik melambai-lambaikan “rok” nya ala Monroe, mahluk cantik ini lumayan catchy di atas tumpukan sedimen pasir dan sedikit sampah (namanya juga muck dive, no coral, huhuuu).Ukurannya yang hanya sekitar 3 cm teryata cukup menarik perhatian para penyelam lain. Perlahan saya mulai bergeser, sambil mata jelalatan mencari objek-objek menarik lainnya.
Turun sedikit lebih dalam, saya dikejutkan dengan peluit berisik dan dentingan heboh tank banger sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di atas pasir..Apaan sih..ga kelihatan apa-apa..Sang Dive Master menarik bahu saya supaya melihat lebih dekat sehingga mata bolor saya bisa lebih jelas melihat. Sambil memberikan tanda “OK”, saya kembali memicingkan mata baik-baik…SUMPAH!! GW KAGAK LIAT APA-APA!!! ( entah gimana tuh underwater signnya buat keputus asaan mata bolor ..hahhaha). Dengan wajah yang kelihatannya dibuat tenang dan sabar, beliau menunjukkan sesuatu yang kecil dengan warna menyerupai pasir di sekitarnya di balik sebuah batu..oowwwhhh….rupanya..rupanya…mmm..apa yaahh….… itu dia! The Ambon Lacey Scorpionfish!! Walaupun “mengandung” unsur kata “ ambon” pada padanan bahasa latinnya, sebenarnya hewan imut nan cantik berukuran 10-20 cm ini bisa ditemui di tempat lain, Lembeh dan Teluk Buyat adalah dua lokasi dimana saya pernah menemui si Nyong Manise. Mumpung belum ada yang lihat segera saja..jeprat jepreett..!!
Lagi-lagi makan ( yup, ini masih diveblog kok, divingnya masih lama tapinyaa..hhahaha), kali ini kami memesan kopi rarobang, kopi jahe yang ditaburi irisan kenari, beberapa kue khas ambon, dan ini nih wine pala. Yang terakhir ini mungkin patut juga dicoba. Wine dari buah pala ini rasanya seperti white wine biasa,hanya saja lebih terasa kadar air dan sedikit rasa pedas khas pala. Kekhasan lainnya adalah betapa wine pala ini adalah stimulan yang baik untuk… TIDUR. hehhehehe..Sambil menikmati music Hawaiian Ambon, kami menikmati pajangan memorabilia nyong dan usi Ambong yang berjaya tak hanya di Indonesia, tapi juga di Belanda sana. Menunggu hujan yang tak kunjung usai, kami bergegas kembali ke hotel, istirahat. Karena besok waktunya nyempluuunnggg…
Pagi yang ceraah…eh..masih ujan deng..ah ya sudahlah, ga masalah, toh kalo nyelam kan basah juga. Rencana penyelaman di pagi ini adalah kawasan Laha yang terkenal dengan diketemukannya si muka ceper: si spesies khas ambon yang jadi obrolan di seluruh dunia karena keunikannya. Tapi sebelum semuanya beharap bahwa saya akan bercerita tentang Si Muka Ceper itu, saya ingatkan dari awal yaa..sialnya ..saya ga ketemu..huhuu.. jadi mendingan kita pura-pura ga tau aja dulu ya tentang si ganteng itu karena saya mau ceritanya yang saya temuin aja..hahahhahaha.. Yang pasti visibility penyelaman di Laha tidaklah begitu ciamik, apalagi setelah hujan, kawasan dekat pemukiman dengan gaya Muck Dive ini lumayan menyebalkan ditambah dekatnya dengan muara sungai.
Setelah cukup puas, saya memalingkan wajah ke arah sang Dive Master yang tampaknya sudah cukup lama menunggu, dia kembali menunjukkan sesuatu. Nah kalau yang ini saya langsung segera bisa melihat dan mengenali. The exotic mandarin fish. Sambil tersenyum (bisa bayangin ga, gw senyum sambil ngemut second stage?hahhhaha) saya menghampiri si ikan cantik yang tidak malu-malu muncul di balik batu (udaaang kaliii…di balik batu..). Biasanya ukuran mandarin fish tidak pernah terlalu besar, mungkin di sekitar kisaran 4-6 cm, tapi mandarin fish dari Laha ini memang terkenal cukup bongsor.
Sungguh ukuran yang amat sangat bersahabat untuk para penyelam bolor yang tidak memiliki kemampuan mikroskopik ala fotografer bawah laut yang hobi makro. Matanya yang cukup besar , ditambah sirip layaknya sayap menambah anggun gerakan ikan yang juga bisa ditemui dengan mudah di salah satu tanki Sea World Ancol .
Ternyata tidak hanya satu ekor mandarin fish bongsor saja yang saya temui, total ada empat ekor mandarin cantik yang asyik menari-nari diantara dataran sedimen di Laha. Tidak lama kemudian, layaknya selebritis, empat ekor bintang bawah air kita ini sudah sibuk dalam sesi pemotretan para fotografer yang tak kalah excitednya mengabadikan polah si mascot Sail Banda hingga tiba waktunya kembali ke darat.
What a day.. tapi pastinya lumayan mengobati beberapa pengharapan yang tidak jadi dilaksanakan dalam perhelatan di kegiatan Sail Banda akibat buruknya kondisi cuaca. Tapi itu kan cuma cuaca..semangat dan keindahan Maluku tetap saja bisa dinikmati kapan saja…
Related Posts
Sail Banda
Penerbangan dari Jakarta pada malam hari ternyata bukanlah halangan terbesar untuk bisa ikutan di event seru ini. Halangan terbesar ternyata didapat ketika sampai di Ambon : hotel PENUH!! Bayangkan saja, Ambon yang tiba-tiba semarak dengan belasan gedung hotel baru bisa sampai kehabisan kamar ! Lemes rasanya, membayangkan kasur empuk untuk rehat sejenak agak sedikit buyar, apalagi mengingat adanya surat edaran dari Sekda yang sempat “ menghimbau” pihak manajemen hotel-hotel di Ambon untuk mengosongkan kamar-kamar dikarenakan adanya tamu-tamu penting untuk kegiatan tersebut. Man..i wish I was the VIP person..uh..
Tapi ternyata doa memelas saya hari itu terwujud. Tersisa juga sebuah kamar hotel di hotel Mutiara yang letaknya cukup strategis di tengah kota. Sebuah kamar apik dan TV mungil menyambut kedatangan saya. Setelah penerbangan lumayan bikin lapar , rasanya room service adalah yang paling tepat. Setelah pembicaraan singkat dengan salah seorang staff hotel, jadilah saya memesan Sukun Gula dan Kasbi Goreng ditambah teh hangat sebagai pelengkap.
Tidak ada yang aneh dengan sukun gula, sukun yang digoreng setengah kering dan disiram dengan gula aren cair nan kental. Itu yang saya kira sebelum melumat habis sukun-sukun malang tersebut, ternyata rasanyaa…HWWWAADADDDDUUUHHHHH…NIKKMMEEEEHHHH!!! Daging sukun yang empuk dan lembut, dibalut bagian luar sukun yang sudah digoreng agak kering, wanginya yang khas dihiasi dengan aroma gula aren..gimana ga langsung ludes itu 6 potong sukun dalam waktu kurang dari 5 menit??!!! Kalap judulnya…hahahha.. sambil menarik nafas, saya mulai melirik si kasbi goreng yang mulai tampak ketakutan. Hap hap… kasbi alias singkong yg digoreng ini ga kalah dashyat, apalagi ditambah dengan sambal goreng tomat sebagai cocolannya..!! Ampuunnn… belum selesai kasbi, saya sudah pesan sukun gula satu porsi lagi…panic dot com deh..hahhaa…
Tangan masih belepotan gula aren, seorang rekan tiba-tiba mengingatkan waktunya untuk jalan-jalan di sekitar Ambon. Segera bergegas merapikan diri sedikit, saya pun segera melesat memasuki mobil. Rencananya kami akan berkunjung ke pantai Natsepa, sambil makan rujak (makan lagiii??)nangkring deh disana , tapi ternyata cuaca Ambon di Agustus ini emang sedang kacau-kacaunya, belum lagi kegiatan perbaikan fasilitas pantai yang membatalkan niat kami berkunjung ke Natsepa. Jadilah untuk mengobati patah hati, kami belok ke kawasan kota nongkrong di warung kopi Sibu-sibu, one of my favourite place in Ambon.
Tapi sudahlah, gaya pesimis dan pengeluh sebenarnya bukan gaya saya, jadi mendingan kita berdoa aja..minimal bisa ketemu sama maskotnya si Sail Banda: Mandarin Fish bongsor .
Adalah sebuah Nudibranch ( habisnya ga ada ekornya jadi bukan seekor dong.. ;p ) dengan merk Chromodoris kunei yang sedang asik melambai-lambaikan “rok” nya ala Monroe, mahluk cantik ini lumayan catchy di atas tumpukan sedimen pasir dan sedikit sampah (namanya juga muck dive, no coral, huhuuu).Ukurannya yang hanya sekitar 3 cm teryata cukup menarik perhatian para penyelam lain. Perlahan saya mulai bergeser, sambil mata jelalatan mencari objek-objek menarik lainnya.
Turun sedikit lebih dalam, saya dikejutkan dengan peluit berisik dan dentingan heboh tank banger sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di atas pasir..Apaan sih..ga kelihatan apa-apa..Sang Dive Master menarik bahu saya supaya melihat lebih dekat sehingga mata bolor saya bisa lebih jelas melihat. Sambil memberikan tanda “OK”, saya kembali memicingkan mata baik-baik…SUMPAH!! GW KAGAK LIAT APA-APA!!! ( entah gimana tuh underwater signnya buat keputus asaan mata bolor ..hahhaha). Dengan wajah yang kelihatannya dibuat tenang dan sabar, beliau menunjukkan sesuatu yang kecil dengan warna menyerupai pasir di sekitarnya di balik sebuah batu..oowwwhhh….rupanya..rupanya…mmm..apa yaahh….… itu dia! The Ambon Lacey Scorpionfish!! Walaupun “mengandung” unsur kata “ ambon” pada padanan bahasa latinnya, sebenarnya hewan imut nan cantik berukuran 10-20 cm ini bisa ditemui di tempat lain, Lembeh dan Teluk Buyat adalah dua lokasi dimana saya pernah menemui si Nyong Manise. Mumpung belum ada yang lihat segera saja..jeprat jepreett..!!
Lagi-lagi makan ( yup, ini masih diveblog kok, divingnya masih lama tapinyaa..hhahaha), kali ini kami memesan kopi rarobang, kopi jahe yang ditaburi irisan kenari, beberapa kue khas ambon, dan ini nih wine pala. Yang terakhir ini mungkin patut juga dicoba. Wine dari buah pala ini rasanya seperti white wine biasa,hanya saja lebih terasa kadar air dan sedikit rasa pedas khas pala. Kekhasan lainnya adalah betapa wine pala ini adalah stimulan yang baik untuk… TIDUR. hehhehehe..Sambil menikmati music Hawaiian Ambon, kami menikmati pajangan memorabilia nyong dan usi Ambong yang berjaya tak hanya di Indonesia, tapi juga di Belanda sana. Menunggu hujan yang tak kunjung usai, kami bergegas kembali ke hotel, istirahat. Karena besok waktunya nyempluuunnggg…
Pagi yang ceraah…eh..masih ujan deng..ah ya sudahlah, ga masalah, toh kalo nyelam kan basah juga. Rencana penyelaman di pagi ini adalah kawasan Laha yang terkenal dengan diketemukannya si muka ceper: si spesies khas ambon yang jadi obrolan di seluruh dunia karena keunikannya. Tapi sebelum semuanya beharap bahwa saya akan bercerita tentang Si Muka Ceper itu, saya ingatkan dari awal yaa..sialnya ..saya ga ketemu..huhuu.. jadi mendingan kita pura-pura ga tau aja dulu ya tentang si ganteng itu karena saya mau ceritanya yang saya temuin aja..hahahhahaha.. Yang pasti visibility penyelaman di Laha tidaklah begitu ciamik, apalagi setelah hujan, kawasan dekat pemukiman dengan gaya Muck Dive ini lumayan menyebalkan ditambah dekatnya dengan muara sungai.
Setelah cukup puas, saya memalingkan wajah ke arah sang Dive Master yang tampaknya sudah cukup lama menunggu, dia kembali menunjukkan sesuatu. Nah kalau yang ini saya langsung segera bisa melihat dan mengenali. The exotic mandarin fish. Sambil tersenyum (bisa bayangin ga, gw senyum sambil ngemut second stage?hahhhaha) saya menghampiri si ikan cantik yang tidak malu-malu muncul di balik batu (udaaang kaliii…di balik batu..). Biasanya ukuran mandarin fish tidak pernah terlalu besar, mungkin di sekitar kisaran 4-6 cm, tapi mandarin fish dari Laha ini memang terkenal cukup bongsor.
Sungguh ukuran yang amat sangat bersahabat untuk para penyelam bolor yang tidak memiliki kemampuan mikroskopik ala fotografer bawah laut yang hobi makro. Matanya yang cukup besar , ditambah sirip layaknya sayap menambah anggun gerakan ikan yang juga bisa ditemui dengan mudah di salah satu tanki Sea World Ancol .
Ternyata tidak hanya satu ekor mandarin fish bongsor saja yang saya temui, total ada empat ekor mandarin cantik yang asyik menari-nari diantara dataran sedimen di Laha. Tidak lama kemudian, layaknya selebritis, empat ekor bintang bawah air kita ini sudah sibuk dalam sesi pemotretan para fotografer yang tak kalah excitednya mengabadikan polah si mascot Sail Banda hingga tiba waktunya kembali ke darat.
What a day.. tapi pastinya lumayan mengobati beberapa pengharapan yang tidak jadi dilaksanakan dalam perhelatan di kegiatan Sail Banda akibat buruknya kondisi cuaca. Tapi itu kan cuma cuaca..semangat dan keindahan Maluku tetap saja bisa dinikmati kapan saja…
Related Posts
Lembeh Hills Resort