Belum pula penerbangan terakhir ke Manado yang akan saya tumpangi terbang, tiba-tiba telepon saya berdering…… gawat!!!! IBU BOSS nelepon! Pahamlah saya Editor in Chief kami ini akan menyusahkan saya dengan ide-ide gilanya lagi. Untungnya, kali ini dia gak lagi gila. Malahan saya diperintahkan untuk mampir ke sebuah resort baru yang sudah sering saya dengar kemegahannya di Lembeh.
Rencana perjalanan ke Manado yang sudah saya susun jauh-jauh hari “terpaksa” harus berubah. Telpon sana-sini ngubah jadwal penerbangan, akhirnya saya siap untuk “deviasi” perjalanan. Undangan seminggu ke sebuah boutique resort di Manado harus saya bagi-bagi dengan beberapa malam di Lembeh.
Gak terasa sekitar 10 bulan sudah sejak terakhir saya tinggalkan Lembeh. Masih teringat beberapa “penasaran” saya yang masih tersimpan karena belum berhasil membuat foto sesuai harapan saat terakhir saya di Lembeh yang terkenal di dunia sebagai tujuan fotografi bawah laut khususnya macro photo. Bagaikan sebuah mall, kadang kita bisa “memesan” binatang apa yang “diperlukan” dalam trip kita. Mulai dari nudibrach, berbagai gurita, kuda laut ukuran sejengkal sampai sebesar kepala pentol korek, siap disajikan di Lembeh. Saking seringnya penyelaman di sana, para diveguide dengan mudahnya mengantar kita ke “alamat” mahluk indah sesuai request.
Perjalanan kali ini saya hanya ditemani macro-setup saya. Dome dan wide angle lens saya tinggalkan. BulaD tekaD: macro only. Dalam penerbangan larut malam menuju Manado, saya sempatkan melihat kembali foto-foto yang pernah saya buat di Lembeh dan menulis beberapa catatan untuk “sesi foto” nanti. Gak sabar rasanya memulai petualangan dengan “mahluk-mahluk halus” di Lembeh.
Setelah beberapa hari menyelam di Manado (emmm, critanya di edisi lain ya), tibalah saatnya saya pindah tempat tidur ke Lembeh Hills Resort (baca divestay mengenai resort ini di DiveMag Adventure issue, June 2010). Karena sebelum “check in” ke LHR saya menyelam di perairan Lembeh maka saya masuk ke resort ini dari sisi laut. Jetty yang dibangun rapi di dalam teluk kecil itu membuat kita mudah naik dan turun dari boat. Chief dive operator dan beberapa dive guides sudah menanti di sana. Sebuah handuk hangat (yang selalu disajikan selesai setiap penyelaman) menyegarkan kembali di hari yang cukup melelahkan. Untuk mengoperasikan diving LHR bekerjasama dengan YOS Dive Lembeh yang telah memiliki pengalaman di bidangnya selama 20 tahun. Hal ini memastikan Anda mendapatkan pengalaman menyelam yang luar biasa.
Kekawatiran saya ketika melihat resort yang terletak di bukit yang cukup curam itu adalah perjalanan naik-turun yang melelahkan. Ternyata, sebuah club car tersedia untuk mengantarkan ke kamar-kamar. Ruang penyimpanan dive gear dan ruangan khusus untuk kamera membuat kita nyaman dan aman bagi perlengkapan.
Malam itu saya habiskan dengan memeriksa kembali perlengkapan lalu ngobrol dan “memesan menu diving” selama saya di Lembeh kali ini. Pontohi seahorse (Hippocampus pontohi), Lacey Scorpionfish (Rhinopias aphanes) dan blue-ringed octopus (Hapalochlaena lunulata) adalah sebagian dari menu yang saya pesan. Mentah dan hidup….. jangan digoreng, panggang ataupun rebus.
Selesai mandi dan makan malam (A la carte), saatnya tidur. Kamar yang luar biasa lega, ranjang yang hangat, lengkap dengan big screen LCD TV, dvd/cd player+ iPod dock. Hmmm, sempat juga mengganggu pikiran saya untuk mengurangi jumlah penyelaman dan bobo-bobo aja….. untungnya itu tidak saya lakukan (tapi memang membuat saya tidur sedikiiiittt lebih lama, hihi). Malam itu tidak nite-dive dengan alasan hujan, hehe. (Gw ngerti neng, lo takut blow rambut rusak kan ? Hehheh- red).
Pagiiiii banget….. belum juga jam 10, saya sudah siap untuk menyelam (hehehe, di Jakarta kan masih jam 9). Tujuan dive hari ini: Nudi falls, Air Prang dan Pantai Parigi. Seperti muck dive pada umumnya, visibility penyelaman di Lembeh tidak terlalu bagus. 10 meter jarak pandang sudah termasuk bagus. Dengan hujan semalam jarak pandang tentunya semakin pendek, namun itu tidak menjadi masalah karena toh untuk memotret critters tidak memerlukan jarak yang jauh. Sebelum tiba di Lembeh saya sempat mendengar kalau selat Lembeh sedang berarus kencang namun selama di sana saya tidak pernah merasakan arus yang berarti. Favorit saya hari ini: baby filefish, pygmy seahorse (Hippocampus bargibanti), flamboyant cuttlefish dan clownfish dengan parasit di mulutnya. No nite dive tonite, hujaaaaan….. Ini kan Spa resort, wajar dong saya pampering.
Hari kedua saya mulai lebih pagi lagi ….. jam 9:30 saya sudah underwater (hihi, kamarnya cozy banget sih). Wonderpus octopus(Wunderpus photogenicus) dan mimic octopus (Thaumoctopus mimicus), giant frogfish, red ambon scorpionfish, dan berbagai jenis nudibranch semua itu saya temui dalam satu penyelaman. Trip saya kali ini juga “penuh” dengan penampakan ghost pipefish (ornate dan robust), mereka muncul di hampir tiap penyelaman bahkan sering muncul bersamaan. Di penyelaman lainnya di dive spot Makawide saya disuguhkan salah satu pesanan saya: pontohi seahorse dengan bonus hairy shrimp di dekatnya. Dua mahluk mungil ini sangat sulit untuk difoto. Sang pontohi selalu tertunduk-tunduk malu kalo mau difoto, belum lagi kalo kita temui yang lincah, dia melompat kesana-kemari. Sedangkan sang “udang bebulu”, selain kecil ukurannya (kali ini sekitar 5mm), susah kita memastikan mana mukanya dan mana belakangnya. Kali ini saya beruntung bisa memotret keduanya dan tepat fokus.
Nah, malam ini hujan tidak terlalu deras, hanya rintik-rintik kecil (lihat betapa beratnya perjuangan saya, hihi) dan ini juga kesempatan terakhir saya untuk melakukan night dive. Turunlah kami sekitar 6:30 malam. Seekor Flabellina nudibranch membuka sesi malam itu. 2 ekor clownfish di anemone yg sedang mengucup dengan paduan warna yang indah menarik perhatian saya, 2 shots saya lakukan di sana……. Dan itulah saatnya baterai kamera saya habis-bis-bis….. weleh-weleh…. mungkin itu alam bawah sadar saya yang pengen menikmati kamar saya yang nyaman lebih lama (addaaaaaa aja alesan…). Tapi kelalaian saya itu harus dibayar sangat mahal. Tepat setelah baterai habis, diveguide saya menunjukkan 3 ekor pygmy seahorse (Hippocampus bargibanti) yang bertengger berdekatan di gorgonian coral. Penasaran, saya masih sempat mengintip melalui camera saya, passsss sekali komposisinya dan mereka menghadap lensa saya dengan narsis skaleee (ggrrrrgggggghhhh!!!).
Hari terakhir, 3 penyelaman dijadwalkan. Penyelaman pagi dibuka dengan tarian sepasang robust ghost pipefish yang diakhiri dengan proses mating. Sebelum berakhir penyelaman pertama, kejadian unik lainnya muncul dimana 2 ekor robust GPF bertemu dengan seekor octopus kecil. Lucu menyaksikan keduabelah pihak berjaga-jaga, menjaga jarak, yang pada akhirnya saling menjauh. Penyelaman kedua adalah penyelaman “balas dendam”. Memotret bargibanti bukanlah sebuah kegiatan yang terlalu menarik, tapi kalau 3 bargibanti dalam 1 frame, tidak makan pun saya rela (untungnya makan sih tetap dikasih). Kembalilah kita ke divespot yang sama. Namun rupanya di pagi ini kami hanya menemukan 1 ekor saja (huaaaa…….!!!!). Saya foto pula lah. Spider crab dan beberapa jenis nudibranch mengisi waktu-waktu saya sebelum bertemu jenis pygmy seahorse lainnya: Hippocampus severnsi.
Penyelaman terakhir adalah penyelaman yang tak kalah menantangnya karena ini kesempatan terakhir untuk bertemu rhinopias di trip kali ini. Untungnya diveguide saya dengan yakinnya menyatakan sudah “mencatat alamat pasti bersama kode pos-nya” dan itu memang terbukti. Belum 5 menit kami menyelam, seekor lacey scorpionfish (Rhinopias aphanes) sudah mejeng dan siap difoto.
Excitement belum berakhir ketika saya menemukan seekor flabelinna sedang bertelur. Kebetulan dia baru memulai prosesnya dengan membersihkan tempat menaruh telur lalu membuka “perut”nya untuk bertelur. Untungnya dia melakukan ini di di sebatang coral kecil yg memungkinkan kamera saya menangkap sisi perutnya yang membuka. Lebih dari 30 menit saya habiskan hanya bersama sang “brankia telanjang” ini dan lebih dari 120 exposure saya lakukan untuk menangkap tiap moment menarik ini. Tentunya beberapa nudi cantik lainnya mengisi waktu-waktu senggang. Sebelum udara di tabung saya di bawah 50bar penyelaman masih di-isi dengan atraksi menarik seekor devilfish melakukan santap sorenya. Kecepatannya menyantap mangsa yang secepat Gundala sang putra petir (komik jadul) cukup sulit untuk ditangkap kamera namun kali ini saya beruntung.
Oh iya, dalam trip bersama Lembeh Hills Resort dan YOS Dive Lembeh ini saya ditemani 2 diveguide dalam setiap penyelaman, hal ini yang memungkinkan penyelaman yang kami lakukan cukup efektif (atau jangan-jangan itu titipan ‘kantor divemag” supaya saya tidak melarikan diri ya? Hmmmm)
Berat hati saya harus mulai mengkoperkan segala perlengkapan menyelam dan motret. Untungnya duka saya terhibur dengan melihat hasil-hasil foto dan pengalaman-pengalaman indah bersama LHR (lebay amat ya?).
I’ll be back!!!
Mulutnya yang besar mendatangi saya, terbuka sangat lebar, siap untuk menerkam..besar sekali, hingga menelan saya bulat-bulat bukan masalah bagi hewan raksasa ini. Semakin mendekat…semakin mendekat…saya hanya bisa pasrah.. Ahhh berlebihan yaq! Karena mahluk yang kita bicarakan disini adalah WHALE SHARK atau HIU PAUS! HIU TERBESAR DI DUNIA.. Read More »
Two in a row, baby! Jika sebelumnya sudah ada edisi 3D, di edisi ini lain lagi istimewanya. It’s Photographer Issue!
Ide ini berawal dari tingginya antusiasme pembaca DIVEMAG untuk menyumbangkan berbagai kontribusi, terutama foto. Banyak juga tanggapan yang masuk yang intinya ingin melihat beberapa banyak potensi fotografer bawah air yang dimiliki Indonesia dan seberapa kompetitifnya jika foto-foto para fotografer Nusantara ini disandingkan dengan foto para fotografer asing. Read More »
Lembeh Hills Resort
Rencana perjalanan ke Manado yang sudah saya susun jauh-jauh hari “terpaksa” harus berubah. Telpon sana-sini ngubah jadwal penerbangan, akhirnya saya siap untuk “deviasi” perjalanan. Undangan seminggu ke sebuah boutique resort di Manado harus saya bagi-bagi dengan beberapa malam di Lembeh.
Gak terasa sekitar 10 bulan sudah sejak terakhir saya tinggalkan Lembeh. Masih teringat beberapa “penasaran” saya yang masih tersimpan karena belum berhasil membuat foto sesuai harapan saat terakhir saya di Lembeh yang terkenal di dunia sebagai tujuan fotografi bawah laut khususnya macro photo. Bagaikan sebuah mall, kadang kita bisa “memesan” binatang apa yang “diperlukan” dalam trip kita. Mulai dari nudibrach, berbagai gurita, kuda laut ukuran sejengkal sampai sebesar kepala pentol korek, siap disajikan di Lembeh. Saking seringnya penyelaman di sana, para diveguide dengan mudahnya mengantar kita ke “alamat” mahluk indah sesuai request.
Perjalanan kali ini saya hanya ditemani macro-setup saya. Dome dan wide angle lens saya tinggalkan. BulaD tekaD: macro only. Dalam penerbangan larut malam menuju Manado, saya sempatkan melihat kembali foto-foto yang pernah saya buat di Lembeh dan menulis beberapa catatan untuk “sesi foto” nanti. Gak sabar rasanya memulai petualangan dengan “mahluk-mahluk halus” di Lembeh.
Setelah beberapa hari menyelam di Manado (emmm, critanya di edisi lain ya), tibalah saatnya saya pindah tempat tidur ke Lembeh Hills Resort (baca divestay mengenai resort ini di DiveMag Adventure issue, June 2010). Karena sebelum “check in” ke LHR saya menyelam di perairan Lembeh maka saya masuk ke resort ini dari sisi laut. Jetty yang dibangun rapi di dalam teluk kecil itu membuat kita mudah naik dan turun dari boat. Chief dive operator dan beberapa dive guides sudah menanti di sana. Sebuah handuk hangat (yang selalu disajikan selesai setiap penyelaman) menyegarkan kembali di hari yang cukup melelahkan. Untuk mengoperasikan diving LHR bekerjasama dengan YOS Dive Lembeh yang telah memiliki pengalaman di bidangnya selama 20 tahun. Hal ini memastikan Anda mendapatkan pengalaman menyelam yang luar biasa.
Kekawatiran saya ketika melihat resort yang terletak di bukit yang cukup curam itu adalah perjalanan naik-turun yang melelahkan. Ternyata, sebuah club car tersedia untuk mengantarkan ke kamar-kamar. Ruang penyimpanan dive gear dan ruangan khusus untuk kamera membuat kita nyaman dan aman bagi perlengkapan.
Malam itu saya habiskan dengan memeriksa kembali perlengkapan lalu ngobrol dan “memesan menu diving” selama saya di Lembeh kali ini. Pontohi seahorse (Hippocampus pontohi), Lacey Scorpionfish (Rhinopias aphanes) dan blue-ringed octopus (Hapalochlaena lunulata) adalah sebagian dari menu yang saya pesan. Mentah dan hidup….. jangan digoreng, panggang ataupun rebus.
Selesai mandi dan makan malam (A la carte), saatnya tidur. Kamar yang luar biasa lega, ranjang yang hangat, lengkap dengan big screen LCD TV, dvd/cd player+ iPod dock. Hmmm, sempat juga mengganggu pikiran saya untuk mengurangi jumlah penyelaman dan bobo-bobo aja….. untungnya itu tidak saya lakukan (tapi memang membuat saya tidur sedikiiiittt lebih lama, hihi). Malam itu tidak nite-dive dengan alasan hujan, hehe. (Gw ngerti neng, lo takut blow rambut rusak kan ? Hehheh- red).
Pagiiiii banget….. belum juga jam 10, saya sudah siap untuk menyelam (hehehe, di Jakarta kan masih jam 9). Tujuan dive hari ini: Nudi falls, Air Prang dan Pantai Parigi. Seperti muck dive pada umumnya, visibility penyelaman di Lembeh tidak terlalu bagus. 10 meter jarak pandang sudah termasuk bagus. Dengan hujan semalam jarak pandang tentunya semakin pendek, namun itu tidak menjadi masalah karena toh untuk memotret critters tidak memerlukan jarak yang jauh. Sebelum tiba di Lembeh saya sempat mendengar kalau selat Lembeh sedang berarus kencang namun selama di sana saya tidak pernah merasakan arus yang berarti. Favorit saya hari ini: baby filefish, pygmy seahorse (Hippocampus bargibanti), flamboyant cuttlefish dan clownfish dengan parasit di mulutnya. No nite dive tonite, hujaaaaan….. Ini kan Spa resort, wajar dong saya pampering.
Hari kedua saya mulai lebih pagi lagi ….. jam 9:30 saya sudah underwater (hihi, kamarnya cozy banget sih). Wonderpus octopus(Wunderpus photogenicus) dan mimic octopus (Thaumoctopus mimicus), giant frogfish, red ambon scorpionfish, dan berbagai jenis nudibranch semua itu saya temui dalam satu penyelaman. Trip saya kali ini juga “penuh” dengan penampakan ghost pipefish (ornate dan robust), mereka muncul di hampir tiap penyelaman bahkan sering muncul bersamaan. Di penyelaman lainnya di dive spot Makawide saya disuguhkan salah satu pesanan saya: pontohi seahorse dengan bonus hairy shrimp di dekatnya. Dua mahluk mungil ini sangat sulit untuk difoto. Sang pontohi selalu tertunduk-tunduk malu kalo mau difoto, belum lagi kalo kita temui yang lincah, dia melompat kesana-kemari. Sedangkan sang “udang bebulu”, selain kecil ukurannya (kali ini sekitar 5mm), susah kita memastikan mana mukanya dan mana belakangnya. Kali ini saya beruntung bisa memotret keduanya dan tepat fokus.
Nah, malam ini hujan tidak terlalu deras, hanya rintik-rintik kecil (lihat betapa beratnya perjuangan saya, hihi) dan ini juga kesempatan terakhir saya untuk melakukan night dive. Turunlah kami sekitar 6:30 malam. Seekor Flabellina nudibranch membuka sesi malam itu. 2 ekor clownfish di anemone yg sedang mengucup dengan paduan warna yang indah menarik perhatian saya, 2 shots saya lakukan di sana……. Dan itulah saatnya baterai kamera saya habis-bis-bis….. weleh-weleh…. mungkin itu alam bawah sadar saya yang pengen menikmati kamar saya yang nyaman lebih lama (addaaaaaa aja alesan…). Tapi kelalaian saya itu harus dibayar sangat mahal. Tepat setelah baterai habis, diveguide saya menunjukkan 3 ekor pygmy seahorse (Hippocampus bargibanti) yang bertengger berdekatan di gorgonian coral. Penasaran, saya masih sempat mengintip melalui camera saya, passsss sekali komposisinya dan mereka menghadap lensa saya dengan narsis skaleee (ggrrrrgggggghhhh!!!).
Hari terakhir, 3 penyelaman dijadwalkan. Penyelaman pagi dibuka dengan tarian sepasang robust ghost pipefish yang diakhiri dengan proses mating. Sebelum berakhir penyelaman pertama, kejadian unik lainnya muncul dimana 2 ekor robust GPF bertemu dengan seekor octopus kecil. Lucu menyaksikan keduabelah pihak berjaga-jaga, menjaga jarak, yang pada akhirnya saling menjauh. Penyelaman kedua adalah penyelaman “balas dendam”. Memotret bargibanti bukanlah sebuah kegiatan yang terlalu menarik, tapi kalau 3 bargibanti dalam 1 frame, tidak makan pun saya rela (untungnya makan sih tetap dikasih). Kembalilah kita ke divespot yang sama. Namun rupanya di pagi ini kami hanya menemukan 1 ekor saja (huaaaa…….!!!!). Saya foto pula lah. Spider crab dan beberapa jenis nudibranch mengisi waktu-waktu saya sebelum bertemu jenis pygmy seahorse lainnya: Hippocampus severnsi.
Penyelaman terakhir adalah penyelaman yang tak kalah menantangnya karena ini kesempatan terakhir untuk bertemu rhinopias di trip kali ini. Untungnya diveguide saya dengan yakinnya menyatakan sudah “mencatat alamat pasti bersama kode pos-nya” dan itu memang terbukti. Belum 5 menit kami menyelam, seekor lacey scorpionfish (Rhinopias aphanes) sudah mejeng dan siap difoto.
Excitement belum berakhir ketika saya menemukan seekor flabelinna sedang bertelur. Kebetulan dia baru memulai prosesnya dengan membersihkan tempat menaruh telur lalu membuka “perut”nya untuk bertelur. Untungnya dia melakukan ini di di sebatang coral kecil yg memungkinkan kamera saya menangkap sisi perutnya yang membuka. Lebih dari 30 menit saya habiskan hanya bersama sang “brankia telanjang” ini dan lebih dari 120 exposure saya lakukan untuk menangkap tiap moment menarik ini. Tentunya beberapa nudi cantik lainnya mengisi waktu-waktu senggang. Sebelum udara di tabung saya di bawah 50bar penyelaman masih di-isi dengan atraksi menarik seekor devilfish melakukan santap sorenya. Kecepatannya menyantap mangsa yang secepat Gundala sang putra petir (komik jadul) cukup sulit untuk ditangkap kamera namun kali ini saya beruntung.
Oh iya, dalam trip bersama Lembeh Hills Resort dan YOS Dive Lembeh ini saya ditemani 2 diveguide dalam setiap penyelaman, hal ini yang memungkinkan penyelaman yang kami lakukan cukup efektif (atau jangan-jangan itu titipan ‘kantor divemag” supaya saya tidak melarikan diri ya? Hmmmm)
Berat hati saya harus mulai mengkoperkan segala perlengkapan menyelam dan motret. Untungnya duka saya terhibur dengan melihat hasil-hasil foto dan pengalaman-pengalaman indah bersama LHR (lebay amat ya?).
I’ll be back!!!
Related Posts
AHE 1 – Mi Macho Gurano
DIVEMAG #9
Two in a row, baby! Jika sebelumnya sudah ada edisi 3D, di edisi ini lain lagi istimewanya. It’s Photographer Issue!
Ide ini berawal dari tingginya antusiasme pembaca DIVEMAG untuk menyumbangkan berbagai kontribusi, terutama foto. Banyak juga tanggapan yang masuk yang intinya ingin melihat beberapa banyak potensi fotografer bawah air yang dimiliki Indonesia dan seberapa kompetitifnya jika foto-foto para fotografer Nusantara ini disandingkan dengan foto para fotografer asing. Read More »