Dive Blog : Pygmy to Pygmiie

Diveblog Pygmy to Pygmiie

“Hey, Pris, udah pernah ketemu pygmy seahorse?” “Hmm? Pygmy seahorse? Apa’an itu?” “Nih, hewan kecil keluarga kuda laut ini namanya pygmy seahorse.”
Itu sekelebat ingatan saya, saat paman saya yang seorang instruktur selam memperkenalkan saya pada kuda laut imut ini. Dan… Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Apa yang membuat seekor kuda laut mungil dengan ukuran yang bikin mata sakit jadi menarik? Bayangin..kuda laut ini hidup di sea fan yang sewarna dengan tubuhnya. Alam membentuknya dengan corak yang sedemikian mirip, hingga karakter yang terlihat pasif dan pendiam (kayak yang pernah ngajak ngobrol ajee) sama seperti sea fan. Pertama kali ketemu kuda laut mini alias Pygmy Seahorse ini dalam sebuah penyelaman di Lembeh.
Dua hari sebelumnya, saya menyusur wall Bunaken, tapi tidak satupun pygmy menampakkan dirinya. Hari ketiga, kami pindah lokasi ke Lembeh, dan trip leader kami, yang juga instruktur saya, meyakinkan saya kalau di Lembeh pasti ketemu. Ah, excited banget! Rasanya seperti menanti kedatangan kekasih yang sudah lama tidak berjumpa. Hahaayyy.

Dua penyelaman dilakukan, belum juga bertemu pygmy. Saya sudah sedikit desperate. Saat bersiap turun untuk penyelaman ketiga, instruktur saya mencolek dive guide kami dan berkata, “Pak, yang ini (nunjuk ke saya) pengen liat pygmy. Kalo nemu, langsung tarik dia ya.”
Wihiwww, rasanya ada secercah harapan baru.
Tapi kadang, harapan memang tak seindah kenyataan. Sudah 20 menit kami menyelam, belum juga menemukan keberadaan si kecil mungil. Padahal saya sudah mencoba memfokuskan mata saya pada setiap seafan yang ada.
20 menit berlalu dan tau-tau instruktur saya narik saya dan memberi sinyal untuk melihat ke spot yang ditunjuk tadi. Sayapun mendekat. Saya melihat ada sebuah seafan besar di balik karang, dan salah satu guide menunjuk satu arah menggunakan pointernya. Saya melihat lebih dekat dan… Haduuuuuhhh..ini mata rasanya mau copot! Sang guide yang pengertian untuk penyelam rabun ayam kayak saya, mengeluarkan lup alias kaca pembesar dari kantung BCD nya. Nah! Baru deh kelihatan jelas. Matanya yang besar dan tampak lugu, mulutnya yang manyun kayak siap nyosor, ekornya melingkar mengait pada batang sea fan, gerakannya yang antara mau gerak dan bengong. Wuiih… Makhuk imut satu ini gemesin banget!
It’s the pygmy I’ve been looking for! Kalau bisa jingkrak-jingkrak, I must have been doing it! Seneng banget rasanya, akhirnya ketemu juga. Sampai-sampai pas instruktur saya mau foto-foto, saya ngga mau menyingkir. Haha.
Sebagai mahluk laut yang lumayan pasif, memotret pygmy seahorse ternyata bukan berarti mudah loh. Hal ini yang dialami saya yang sempat meremehkan “kemudahan” yang ditawarkannya. Bayangan saya awalnya, memotret pygmy akan sama mudahnya dengan memotret benda yang pasif dan tidak banyak gerak. Eh gak taunya… Boro-boro… Selain ukurannya yang lumayan kecil, menemukan doi di antara view finder kamera lumayan juga loh. Belum lagi kita harus memperhatikan posisi kamera, bouyancy dan dalam saat yang bersamaan mengatur posisi kamera biar framing ciamik. Udah gitu… Cekrek! Eeehh.. Gak fokuusss… Wajaaarrrrr! Hahahah.

Penyelaman demi penyelaman saya lalui, foto demi foto dicoba diambil, ketertarikan saya seakan tak pernah sirna. Malah, saya jadi galak sama teman-teman yang ikut motret pygmy, terutama kalo mereka pake strobe dan flash, hihi.
Suatu hari, saya ditanya sama teman, “Hey, pygmiie! (nama alias saya, -red) Udah ketemu kembaran lo (pygmy, -red) di Kepulauan Seribu belom? Kemaren ada yang motret loh. Cek deh di FB.”

Ha?
Tanpa merespon pertanyaan teman saya, saya malah berpikir (sambil melongo). Emang ada pygmy di sana? Tiga-empat tahun suka bolak-balik, tapi kayanya ga pernah denger sedikitpun tentang keberadaan pygmy di sana.

Sampai akhirnya saya mencoba menelaah kebenaran kabar tersebut dan menemukan jawabannya. Ada! Beneran!
Menurut narasumber yang saya kontak, pertama kali si kecil ini ditemukan di sekitar Pulau Pramuka. Rasa penasaran membuat beberapa guide dan diver mengeksplor daerah sekitar situ dan menemukan bahwa selain di sekitaran Pulau Pramuka, beberapa ekor pygmy seahorse spesies denise (Hippocampus denise) berwarna kuning juga ditemukan di perairan Pulau Karya dan Pulau Panggang. Bukan hanya satu, tapi dalam satu seafan bisa sampe ada dua, enam, delapan, sampai dua belas ekor pygmy seahorse! Bahkan ada juga induk pygmy yang sedang hamil.

Bagaimana asal-usul si pygmy mampir di Pulau Seribu, ngga ada yang bisa benar-benar memberikan keterangan. Apalagi si pygmy ini terakhir kali dilihat di sekitar Pulau Seribu sekitar 10 tahun lalu. Yang jelas, kabar ini sempat membuat heboh dunia penyelam (lebaaayyy) dan membuat cukup banyak penyelam yang penasaran untuk mampir dan mencari si kecil mungil. Termasuk Kang Ringgo yang pernah memberi testimoninya, “Asik lagi, liatin satu-satu seafan yang ada. Pas ketemu, rasanya bangga bener gitu, bisa nemuinnya.”

Another cool fact about it adalah sejak ditemukannya si pygmy ini, daerah Kepulauan Seribu (terutama Pulau Pramuka, Pulau Karya dan Pulau Panggang) mulai rajin disambangi penyelam yang penasaran. Pemasukan dari sektor pariwisata meningkat. Hal ini diikuti dikeluarkannya kebijakan peraturan daerah yaitu para nelayan ngga boleh lagi menangkap ikan di area-area tersebut karena jaring nelayan dapat merusak karang dan seafan rumah pygmy. Siapa sangka, hewan kecil ini bisa berpengaruh sedemikan besar terhadap kelangsungan sebuah ekosistem? Kecil-kecil cabe rawit kaaannn? :p

This entry was posted in Dive Blog. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.

  • Twitter

    Twitter

    Facebook

    Facebook

    Script Like Box Facebook taruh Disini ×