DIVE BLOG: HIDUP HIU

Wakatobi
Menyelam adalah kegiatan rekreasi yang sangat menyenangkan. Kegiatan ini bukan saja baik bagi kesehatan, namun juga untuk
menenangkan pikiran dan kepuasan batin. Meminjam kata-kata bijaksana seorang penyelam senior asal Florida, Arthur Hamilton yang mengatakan, “Anda belum ‘melihat dunia’ apabila anda belum pernah menyelam di dasar laut.”
Indonesia, negara tercinta ini adalah tempat yang tepat untuk kegiatan ‘melihat dunia’ alias menyelam yang dimaksud. Hitung saja, di negara kepulauan yang terletak diantara dua benua dan samudera ini terdapat lebih dari 17.000 pulau dari ujung Sumatera sampai tanah Papua. Dikelilingi perbatasan antara laut kamuman, Singapura, laut Cina Selatan,
Malaysia, dan Filipina, serta samudera Pasifik Papua Nugini, samudera Hindia dan Australia. Tuh kan, laut dan samudera! Kebayang kan betapa tak terbatasnya air laut untuk diselami. Lokasi menyelam eksotik di Indonesia begitu banyak dan beragam, mulai dari Pulau Seribu, Ujung Kulon, Karimun Jawa, Kalimantan, Bali dan Sumbawa, Komodo, Wakatobi, Bangka, Bkamu dan Flores, Bintan, Makassar, Bunaken sampai Raja Ampat.
Dengan begitu banyak fakta pendukung asiknya menyelam, masih saja banyak orang yang ‘ogah’ belajar diving, karena alasan takut. Saya masih ingat saat kali pertama menyelam. Waktu itu saya sedang berlibur di Bunaken bersama seorang sahabat saya, Agnes. Karena belum bisa menyelam, saya harus berpuas diri dengan snorkeling; olah raga rekreasi mengambang di atas permukaan air yang dilengkapi masker dan kaki katak ini sudah saya lakukan dalam beberapa tahun terakhir. Dari situlah, saya tertarik untuk mencoba menyelam.
Pengalaman yang tak terlupakan pada saat saya melihat terumbu karang dan ratusan ikan di kedalaman empat meter membuat saya hampir lupa bernafas!
Olah raga diving bukanlah olahraga yang berbahaya apabila kita mengetahui cara menyelam yang baik dan benar. Oleh instruktur saya diajari pengetahuan dasar dan teknik menyelam. Saya juga belajar mengenai peralatan selam, pengetahuan menyelam, upaya penyelamatan diri dan bagaimana melakukan praktek selam yang aman dan nyaman, juga tak kalah pentingnya adalah belajar bagaimana menjadi penyelam yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup.
Hiu Bukan Musuh Manusia
Tidak ada alasan untuk takut mencoba diving, apalagi beralasan mitos, seperti takut digigit hiu. Saya pernah gusar waktu membaca salah satu artikel yang dimuat oleh sebuah Koran bergengsi di Indonesia. Pasalnya adalah artikel tentang wisata kuliner di restoran Jumbo Hongkong dengan menu sup sirip ikan hiu! Catat ya, sirip ikan hiu yang katanya baik untuk kesehatan itu hanyalah mitos!
Ikan hiu memang top predator di lautan, tapi bukan musuh manusia. Hanya lima orang tewas digigit ikan hiu dalam setahun- itupun dengan alasan yang perlu diselidiki lebih lanjut, dibandingkan sekitar 100 juta hiu dibunuh setiap tahunnya!. Hiu tak akan mengganggu jika manusia tidak memulai.
Penangkapan ikan hiu sebenarnya diperbolehkan dengan syarat yaitu hanya dilakukan oleh kapal perikanan yang mempunyai surat ijin tertentu dengan standar kapal yang berukuran besar, yang dimaksudkan agar dapat memuat beberapa ekor ikan hiu utuh! juga batasan berat. Namun, penyalahgunaan terjadi saat sirip ikan hiu saja yang menjadi target penangkapan. Ini menyebabkan negara di Uni Eropa melarang keras pengambilan sirip hiu dan Amerika Serikat juga negara di Pasifik Timur mengeluarkan undang-undang yang melarang penangkapan hiu sejak tahun 2003. Parahnya, di terminal dua Bandara Internasional Soetta ada toko khusus yang menjual sirip ikan hiu. Sigh.

Penangkapan ikan hiu secara ilegal dilakukan dengan proses penangkapan sadis yang sangat melecehkan hak hidup hewan laut; dimulai dari pancingan metal tajam yang menusuk langsung mulut ikan malang ini, ditarik paksa ke atas kapal, mengiris siripnya disaat ikan masih hidup dan membiarkannya kesakitan, kemudian melempar kembali 95% bagian tubuh hiu kedalam laut. Ikan yang sudah tidak mampu berenang ini dibiarkan tenggelam, kehabisan darah dan mati. Ah, I really wish suatu saat nanti, ikan hiu bisa mencium para penyelam yang doyan sup sirip ikan hiu, saya restui mereka ditelan hidup-hidup dibawah laut! Coba tonton video berjudul ‘Shark Finning’ dari National Geographic di You Tube dan lihat sendiri betapa brutal dan barbarnya manusia terhadap hewan laut ini, hanya untuk sebuah mangkuk sup seharga Rp.1.7 juta!
Mitos kuno mengatakan bahwa sup sirip ikan hiu adalah lambang kejantanan yang kemudian menjadi ikon makanan kelas atas. Bagi saya, itu hanyalah kesombongan sekaligus kebodohan. Ditubuh ikan hiu hanya terdapat protein dan minyak yang sama dengan ikan-ikan lainnya. Malah penelitian studi ilmiah terbaru membuktikan bahwa sirip hiu dapat meningkatkan kasus Chondrosarcoma atau kanker tulang rawan, karena tulang rawan ikan hiu berisi 7398b kromosom dengan kadar merkuri yang tinggi yang mematikan.
Mengkonsumsi sirip hiu dalam waktu tertentu itu sama saja dengan penggunaan steroid jangka panjang yang konon dapat menyusutkan alat kelamin kamu! Hanya orang bodoh yang percaya dan mengendorse keperkasaan sup sirip ikan hiu, sama tak mengertinya para nelayan yang membantai ikan hiu di tahun 1970-90an, hanya karena menonton film Jaws!
Pengambilan sirip hiu ilegal ini juga memiliki dampak yang merugikan pada ekosistem laut. Selain menjadi limbah dari tubuh ikan yang dibuang, juga memberi dampak langsung terhadap stok ikan. Berkurangnya hiu harimau menjadikan predator lainnya bertambah yang mengakibatkan berkurangnya populasi ikan tuna. Kalau dibiarkan, manusia tidak bisa lagi mengkonsumsi ikan tuna atau ikan lainnya yang baik untuk dimakan, yang ada hanya tersisa bad fish, ubur-ubur dan bulu babi. Wabah ulat bulu di Indo juga sama, dengan banyaknya orang mengkonsumsi daging burung merpati mengakibatkan berkurangnya predator ulat ini, sehingga ulat bulu semakin bebas berkembang biak. Tuh, silakan bikin sup ulat bulu deh!
Kita dapat membantu untuk menyetop pembunuhan ikan hiu dengan cara mengedukasi keluarga dan teman-teman mengenai kehidupan ikan hiu yang terancam punah ini, berhenti promosi sup sirip hiu yang konon tak berasa ini, or just say ‘NO’ to shark fin soup. Hidup Hiu!

This entry was posted in Dive Blog. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.

  • Twitter

    Twitter

    Facebook

    Facebook

    Script Like Box Facebook taruh Disini ×