DIVE BLOG: PERJALANAN 22 HARI MENJADI KURIR

Wakatobi
“Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines, sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”

Sebagai pekerja lepas, akhir tahun selalu menjadi momentum saya untuk bersantai dan tidak mengambil pekerjaan apapun agar bisa membereskan hal-hal pribadi yang belum selesai. Salah satunya adalah menulis blog, saya ingin sekali mengisinya kembali dan saya mempersiapkan bulan Desember untuk menyelesaikannya. Tapi kenyataan berkata lain, ada tawaran yang susah saya tolak dari seorang teman untuk mengerjakan proyek dari Perpustakaan Nasional.

Pendek cerita, saya dan puluhan orang lainnya bertugas untuk mengantar seperangkat komputer dan bertugas menjelaskan cara pemakaian softwarenya ke orang-orang di perpustakaan daerah. Ada 100 titik di Indonesia dan saya cukup beruntung karena boleh memilih kemana saya ingin pergi. Wakatobi dan Nabire pun masuk ke dalam list saya. Bukan, bukan karena ingin diving di sana, saya cukup tau diri karena saat itu curah hujan sedang tinggi-tingginya. Saya ingin sekali menginjakan kaki di Sulawesi dan Papua untuk pertama kalinya. Dan lewat perjalanan itulah saya akhirnya bukan hanya pergi ke dua pulau di timur Indonesia tersebut tetapi juga menemukan keluarga-keluarga baru yang sangat baik. Semoga cerita saya bisa membuat kalian merasa bangga karena lahir dan memiliki Indonesia! ☺

Udara pukul 3 dini hari di pertengahan Desember 2010 itu cukup menusuk tulang. Belum tidur dan mandi pagi-pagi sekali adalah kombinasi yang cukup mematikan. Perasaan saya campur aduk, ini pertama kalinya saya membawa tanggung jawab yang cukup besar dalam perjalanan yang cukup jauh dan panjang.

Tujuan pertama saya adalah Kendari. Jujur saja, saya belum tau harus menginap di mana di Kendari. Ah, tapi saya beruntung, banyak orang baik di Indonesia. Saya banyak diberi informasi oleh orang asli Kendari yang sedang pulang kampung. Kendari merupakan kota yang cukup sepi untuk saya. Banyak orang yang pergi ke kota ini untuk berbisnis batubara. Saya sempat main ke Pantai Kendari, nyobain pisang epe, dan tak lupa mengabadikan senja di sana. Pengalaman paling menyenangkan dari kota ini adalah ketika saya pergi sendiri di malam hari untuk mencari makan. Banyak sekali tempat makan yang bertuliskan “Asli Bandung”, “Khas Jawa Tengah”, dan khas daerah-daerah lainnya di Pulau Jawa. Saya tak menyerah begitu saja sampai akhirnya menemukan tempat makan bertuliskan “Rumah Makan khas Sulawesi” dan memesan menu yang kalau dipikir-pikir sangat cukup untuk makan 3 orang. Tetapi ternyata saya mampu menghabiskannya! Haha.

Lepas dari Kendari, saya menuju Wangi-wangi. Awalnya sudah terasa manis. Kepulauan Wakatobi sebelumnya bernama Kepulauan Tukang Besi, terletak antara Laut Banda dan Laut Flores dan di sebelah tenggara Pulau Buton (Sulawesi Tenggara). Wakatobi diresmikan sebagai kawasan taman nasional pada tahun 1996. Kabupatennya terdiri dari 4 pulau yaitu: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Sebelum menuju perpustakaannya, saya sempat diajak mengobrol dengan nelayan dan anak-anak di bibir pantai. Dari obrolan itu saya jadi tau kalau mata pencaharian masyarakat Wangi-wangi terbagi 3, yaitu: pedagang, nelayan, dan petani.

Meskipun tak sempat mengunjungi Tomia, Kaledupa, dan Binongko, satu Wangi-wangi sudah berhasil saya kelilingi. Di hari pertama, saya diajak melihat rumah-rumah panggung di pedesaan dan melihat beberapa tempat permandian yang ramai dengan anak-anak perempuan yang sedang mencuci atau sekedar berenang. Tempat permandiannya juga seru. Saya senang sekali melihat pemandangan anak-anak lompat dari tempat tinggi ke dalam air. Ada juga yang memanjat ke tebing-tebingnya seperti spiderman. Pemandangan yang cukup langka di Jakarta bukan? Jangankan manjat, berenang di air pun belum tentu berani. Yang cukup memorable, kami sempat berhenti membeli mangga untuk dimakan saat itu juga dan dibawa untuk dimakan di desa.

Hari ke-2 di Wangi-wangi adalah hari kerja, saya memberi pelatihan software komputer di perpustakaan daerah. Akhirnya saya lega! 1 set komputer yang selama ini saya bawa-bawa bisa juga saya lepaskan. Keesokannya harinya saya membantu para wanita pengurus perpustakaan untuk membuat hidangan-hidangan khas Wakatobi. Saya belajar membuat kasoami, makanan khas Wakatobi yang terbuat dari olahan singkong yang diperas airnya kemudian dikukus. Saya juga sempat jalan-jalan ke Resort milik bupati yang biasa dipakai sebagai tempat menginap para diver dan snorkeling di Pulau Kapota sehari sebelum terbang ke Nabire.

“Kenapa nggak diving? Sayang banget!” Pertanyaan dan pernyataan itu kerap dilontarkan teman-teman saya ketika cerita ini sampai di telinga mereka. Saya ingin sekali namun cuaca dan arus di bulan Desember membuat saya ragu. Kalau kata bapak pengurus Mawadah Dive Resort: “Itu tandanya kamu disuruh balik lagi ke sini, rugi banget kalau sampai nggak diving di Wakatobi mah!” Perkataan yang langsung saya amini. Semoga bisa kembali ke sana untuk diving lagi dan melihat perkampungan Suku Bajo yang sempat menjadi lokasi syuting film Indonesia “The Mirror Never Lies.”

7 jam di Makassar saya habiskan dengan pergi ke Patai Losari, Benteng Rotterdam, makan di Kampung Popsa, pergi ke Anjungan Akkarena, Karebosi, dan menyusuri jalan-jalan besar Makassar sampai akhirnya menuju bandara. Pesawat ke Biak datang tepat waktu pukul satu dini hari.

Kejadian bodoh yang cukup masih saya ingat dalam perjalanan ini adalah ketika sampai Biak. Saat itu saya tertidur pulas dan ketika terbangun dan ingin ke toilet, saya menyadari kalau isi pesawat sudah berkurang setengahnya. Saya sempat berpikir “pasti lagi transit deh”. Sampai keluar toilet dan duduk lagi sekitar lima menit saya baru tersadar kalau pesawat yang saya naiki kan tujuannya ke Jayapura dan Biak adalah tempat transitnya! Haha.

Hei, ini pertama kalinya saya menginjak tanah Papua! Dari Biak saya melanjutkan perjalanan ke Nabire. Akhirnya saya sampai juga di kota tujuan terakhir saya. Ibu Jane, ibu dari perpustakaan sudah menjemput saya bersama suaminya. Hari itu tim perpustakaan daerah akan pergi ke desa-desa untuk membagikan buku-buku. Ikutlah saya dengan badan yang sangat lelah dan mata yang sangat mengantuk.

Beberapa hari pertama di Nabire saya manfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan, yaitu mengantar komputer dan memberikan training untuk semua pegawai perpustakaan. Setelah mengobrol dengan salah satu ibu perpustakaan, Ibu Sayori, ia mengajak saya untuk mengunjungi Pulau Ahe. Esoknya pun saya langsung berangkat dengannya, suaminya, dan tiga anaknya. Saya baru tau dari penjaga di sana kalau Pulau Ahe itu tertutup, tidak boleh ada pengunjung yang sembarangan masuk tanpa seijin si bule yang tinggal dan mempunyai usaha dive resort di sana. Gregetan deh, dilarang di negeri sendiri kok sama orang bule.

Lima hari di Nabire berjalan sangat tenang dan lambat. Tidak ada sinyal dan polusi. Setiap hari saya dan teman-teman makan ikan dengan jenis-jenis yang berbeda. Indonesia makin terasa selama saya tinggal di pondok kayu kecil yang sederhana di sana. Ada orang Nabire asli, ada orang Jawa, ada orang Jailolo, ada orang Manado, dan saya sendiri campuran Betawi-Kalimantan. Kami disatukan oleh kecintaan kami terhadap laut dan ketenangan hidup. Kejutan tak berhenti datang sampai saat itu saja, ketika malam tahun baru, saya diajak pergi ke gereja oleh dua keluarga itu ke kampung Kwatisore. Saya menyaksikan dan ikut dalam ibadah tahun baru di gereja itu lalu pulang ke rumah keluarga besar mereka untuk melakukan doa bersama. Sekitar jam dua pagi, saya agak panik karena badan saya menggigil, saya pun meminta pulang ke pondok. Perjalanannya hanya memakan waktu sekitar 10 menit dengan speedboat. Saya sempat berpikir kalau saat itu saya terkena malaria karena di sana penyakit tersebut sudah menjadi penyakit sehari-hari. Untungnya tidak, saya menggigil karena udara di kampung memang sangat dingin jika sudah malam.

Akhirnya hari terakhir di Pondok Kali Lemon tiba juga! Kalau di hari-hari sebelumnya saya hanya snorkeling dan diving di depan pondok, hari itu saya diajak diving melihat hiu paus sekalian pulang ke Nabire. Rasanya luar biasa sekali. Untuk pertama kalinya saya bermain dengan hiu paus di Nabire, walau hanya bertemu dua ekor whale shark di bagan, saya sudah merasa puas dan tersenyum lebar selama perjalanan pulang ke Nabire. Perjalanan ini merupakan anugerah terbesar. Orang lain yang mau diving bersama hiu paus biasanya harus membayar sekitar tujuh sampai delapan juta dan harganya bisa menjadi dua kali lipat jika menggunakan jasa si bule dari Pulau Ahe.

Perjalanan saya sebagai kurir selama dua puluh dua hari berakhir pada tanggal 4 Januari 2012. Saya pulang ke rumah dengan perasaan yang campur aduk. Rindu terhadap keluarga di sana sudah kembali menggebu-gebu. Badan ini tak terasa lelah, malahan saya tidak sabar untuk melakukan perjalanan panjang lagi di Indonesia setelah ini. Teman-teman yang membantu saya selama perjalanan ini, terimakasih tak terhingga saya ucapkan! Terutama untuk Edina, seorang teman yang memberi saya kepercayaan untuk melakukan pekerjaan ini, jiwa saya menjadi bertambah kaya karenamu. Terimakasih, terimakasih, dan terimakasih! Melakukan perjalanan panjang sendiri di Indonesia sungguh merupakan pengalaman yang sangat luar biasa dan membuat saya ketagihan! ☺

This entry was posted in Dive Blog. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.

  • Twitter

    Twitter

    Facebook

    Facebook

    Script Like Box Facebook taruh Disini ×