Kembali saya menginjakkan kaki saya di tanah Papua, seakan tak pernah bosan dan tak pernah puas, Jelas! Tanah nan subur di timur Indonesia ini memang memiliki beragam keindahan alam yang sangat spekta!, tak lupa terdapat juga beragam flora dan fauna yang khas, berupa jenis Australasia.
Bersama dengan tim Jejak Petualang, Trans 7, kali ini saya berkesempatan untuk meliput mahluk yang sangat langka untuk ditemukan. Di antara “teman-temannya” dia adalah yang terbesarrr!, yap! Dia adalah penyu belimbing! Atau Dermochelys coriacea, Penyu terbesar di dunia!
Saya akan melihatnya di Pantai Jamursba Medi, tempat peneluran penyu belimbing terbesar di dunia, pantai ini terdapat di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Untuk mencapai Pantai Jamursba Medi, kota pertama yang harus disinggahi adalah Sorong, dari Sorong kita menggunakan kapal speed berkekuatan 500 PK selama empat jam!, sebenarnya pantai Jamursba masih berda di daratan Papua, namun karena jalan daratnya tidak memadai, maka jalur laut pun menjadi pilihan.
Empat jam bagaikan tak terasa, apalagi kalau bukan karena pemandangan kanan kiri yang begitu indah, balutan kanopi pepohonan pesisir menghiasi setiap alunan riak kapal, di depan mata saya betul betul terhampar sebuah nirwana. Papua gituu…
Akhirnya terlihatlah sebuah pantai berpasir hitam yang kami tuju ini, Jamursba Medi!. Di hamparan pasir sepanjang 18 kilometer inilah mahluk reptil raksasa dari samudra akan mendarat. Pantai ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Pantai Batu Rumah, Pantai wembrak dan Pantai Warmamedi. Di sini sudah ada tim WWF yang menyambut kami, diantaranya adalah Om Wally dan Daru.
Diantara para peneliti penyu, pantai ini sangat tersohor, Jamurba medi memang menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi oleh penyu belimbing untuk bertelur,hmm bangga saya jadi orang Indonesia, apalagi kalau bukan karena binatang yang telah mélanglang buana ke hampir seluruh dunia ini, memutuskan untuk bertelur di bumi pertiwi ☺ .
Bulan sudah mulai menampakkan sinarnya, saatnya saya bersama kru Jejak Petualang dan kru WWF bergegas menyusuri pantai, mencari mama belimbing yang naik ke atas untuk melaksanakan kodratnya. Tim Jejak Petualang terdiri dari mas Adi sebagai cameramen 1 (yang baru-baru ini melepaskan masa lajang, sah!!), ephit as cameramen 2 dan Hendra sebagai reporter,
Tak seberapa lama, di kegelapan malam, saya lihat bayangan penyu belimbing yang sedang bertelur. WOWWW! MEMANG SANGAT BESAAAAR INI PENYU!. Mungkin ada 2,5 kalinya penyu hijau!! . Dari hasil pengukuran diketahui panjang lengkung karapas adalah 168 cm dan lebarnya 122 cm. Beratnya? Misteri, karena kami tidak menimbangnya..tapi menurut perkiraan Daru, bisa mencapai setengah ton… wiiiiiihhhhh.
Terlihat cangkang khas penyu belimbing, terdapat garis yang lurus sepanjang tubuhnya, tidak terdapat garis melintang seperti penyu-penyu lainnya. Saya mencoba untuk menyentuh cangkang penyu ini, ternyata memiliki tekstur yang lembut, seperti kulit lembu! Tak heran dalam bahasa inggris, penyu ini kerap dipanggil leatherback seaturtle.
Induk penyu belimbing dapat naik ke pantai untuk bertelur sebanyak lima hingga tujuh kali dalam satu musim peneluran, setiap bertelur penyu ini dapat mengeluarkan 75 hingga 120 butir telur.
Sang induk berlahan lahan mengeluarkan telurnya, telurnya berukuran lebih besar dibandingkan dengan telur penyu hijau, apalagi dibandingkan dengan telur penyu lekang. Setelah selesai bertelur sang induk biasa melakukan kamuflase, yaitu menggali-gali kembali pasir di sekitar sarang, tujuannya untuk mengecoh predator seperti babi, biawak dan bahkan manusia.
Ketika kamuflase dirasa cukup, sang induk pun bergerak perlahan ke arah bibir pantai. Siap kembali mengarungi samudra. Pergerakan penyu belimbing ini sangat luas, yaitu terdapat di Benua Asia, Eropa, Amerika selatan, Amerika Utara dan Benua Afrika, woow benar-benar warga dunia.
Saya benar-benar penasaran, apa saja pengalaman hidupnya yang telah dilalui oleh penyu belimbing yang terdapat di depan saya ini, apa dia pernah ketemu paus biru? Apa ia pernah tertangkap nelayan? Apa ketika remaja pernah dikejar-kejar hiu? Buanyaaak pertanyaaaan!
Saya hanya bisa mendoakan semoga penyu ini dapat kembali lagi ke Jamursba Medi di tahun berikutnya, dan tahun berikutnya dan berikutnya hingggaaaaa saatnya ia mati karena tua.
Anambas memang menyimpan sejuta pesona. Saking banyaknya, Divemag membagi cerita Anambas ini di dua edisi Divemag; 500.000 pesona di edisi Divemag 007 dan 500.000 pesona lagi di Divemag 008 (hiii gariiing :p .red) . Bila kemarin saya telah menceritakan keindahan spot-spot diving di kepulauan terdepan Indonesia ini, sekarang saya akan menceritakan tentang perjuangan sang induk penyu dalam memperjuangkan kelangsungan spesiesnya. Read More »
Sumbawaaaaaa! Daerah yang terkenal sama kuda greng dan madunya yang berkhasiat tinggi ini ternyata punya segudang potensi lain yang bisa dieksplor. Dari darat ke laut, dari pusat kota ke pedalaman, dari budaya modern sampai tradisional asik banget dikupas sama team Divemag Indonesia. Ada apa aja? Silakan balik halamannya dan cekbebiceeekkkk. *wink*
Mencapai Sumbawa itu gak susah, ada beberapa alternatif yang bisa dipilih, seperti menggunakan pesawat atau kapal ferry atau speed boat – bisa start dari Mataram, Bali ataupun Labuan Bajo. Sementara untuk angkutan dalam kota ada bus umum, cidomo, mobil rental atau ojek motor.
Sepertinya gak afdol yah jalan ke tempat baru kalau cuma diving dan gak eksplor darat dan kulinernya. Read More »
Mata kami berbinar, nyaris tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami. Ratusan lumba-lumba tampak bertaburan di lautan tenang, sesekali berenang dan berlompatan di sekitar perahu yang kami tumpangi.
Terlihat jelas bagian bawah tubuhnya yang berwarna merah muda, licinnya permukaan tubuhnya, hingga tatapan “ramah” seakan menyapa kami,: ” Selamat datang di Alor”.
Empat puluh lima menit terbang dari ibukota NTT, Kupang, Donovan Whitford dari DiveAlorDive.com tidak terlalu banyak bicara saat kami bertanya seperti apa rupa bawah laut Alor, ia hanya bilang : ” Nanti sajaa..lihat sendiriii..!”. “Bagus mana dengan Raja Ampat?” tanya salah satu peserta penyelaman, ” …Sudaaahh..nanti juga tahu sendirii..” katanya sambil senyum -senyum simpul dengan wajah mesum.. ;p Read More »
Dari judulnya terjawab sudah apa yang akan saya ceritain di diveblog kali ini.. ya! Si penyu hijau dan penyu sisik penghuni Kepulauan Derawan.
Tak ada hari tanpa penyu, selama 10 hari disini, mulai dari hari pertama hingga hari kesepuluh, penyu dan penyuuu!. Mulai dari dermaga, di atas speed boat, pantai..pasti ngeliat yang namanya penyu. Read More »
Saat itu kami akan menyelam di satu titik penyelaman di dekat tebing pulau. Patokannya adalah pohon beringin besar yang melindungi pemakaman umum di pinggir tebing. Waktu itu jam 6 sore. Matahari Alor sedang tenggelam. Read More »
DIVEBLOG : PENYU BELIMBING
Bersama dengan tim Jejak Petualang, Trans 7, kali ini saya berkesempatan untuk meliput mahluk yang sangat langka untuk ditemukan. Di antara “teman-temannya” dia adalah yang terbesarrr!, yap! Dia adalah penyu belimbing! Atau Dermochelys coriacea, Penyu terbesar di dunia!
Saya akan melihatnya di Pantai Jamursba Medi, tempat peneluran penyu belimbing terbesar di dunia, pantai ini terdapat di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Untuk mencapai Pantai Jamursba Medi, kota pertama yang harus disinggahi adalah Sorong, dari Sorong kita menggunakan kapal speed berkekuatan 500 PK selama empat jam!, sebenarnya pantai Jamursba masih berda di daratan Papua, namun karena jalan daratnya tidak memadai, maka jalur laut pun menjadi pilihan.
Empat jam bagaikan tak terasa, apalagi kalau bukan karena pemandangan kanan kiri yang begitu indah, balutan kanopi pepohonan pesisir menghiasi setiap alunan riak kapal, di depan mata saya betul betul terhampar sebuah nirwana. Papua gituu…
Akhirnya terlihatlah sebuah pantai berpasir hitam yang kami tuju ini, Jamursba Medi!. Di hamparan pasir sepanjang 18 kilometer inilah mahluk reptil raksasa dari samudra akan mendarat. Pantai ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Pantai Batu Rumah, Pantai wembrak dan Pantai Warmamedi. Di sini sudah ada tim WWF yang menyambut kami, diantaranya adalah Om Wally dan Daru.
Diantara para peneliti penyu, pantai ini sangat tersohor, Jamurba medi memang menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi oleh penyu belimbing untuk bertelur,hmm bangga saya jadi orang Indonesia, apalagi kalau bukan karena binatang yang telah mélanglang buana ke hampir seluruh dunia ini, memutuskan untuk bertelur di bumi pertiwi ☺ .
Bulan sudah mulai menampakkan sinarnya, saatnya saya bersama kru Jejak Petualang dan kru WWF bergegas menyusuri pantai, mencari mama belimbing yang naik ke atas untuk melaksanakan kodratnya. Tim Jejak Petualang terdiri dari mas Adi sebagai cameramen 1 (yang baru-baru ini melepaskan masa lajang, sah!!), ephit as cameramen 2 dan Hendra sebagai reporter,
Tak seberapa lama, di kegelapan malam, saya lihat bayangan penyu belimbing yang sedang bertelur. WOWWW! MEMANG SANGAT BESAAAAR INI PENYU!. Mungkin ada 2,5 kalinya penyu hijau!! . Dari hasil pengukuran diketahui panjang lengkung karapas adalah 168 cm dan lebarnya 122 cm. Beratnya? Misteri, karena kami tidak menimbangnya..tapi menurut perkiraan Daru, bisa mencapai setengah ton… wiiiiiihhhhh.
Terlihat cangkang khas penyu belimbing, terdapat garis yang lurus sepanjang tubuhnya, tidak terdapat garis melintang seperti penyu-penyu lainnya. Saya mencoba untuk menyentuh cangkang penyu ini, ternyata memiliki tekstur yang lembut, seperti kulit lembu! Tak heran dalam bahasa inggris, penyu ini kerap dipanggil leatherback seaturtle.
Induk penyu belimbing dapat naik ke pantai untuk bertelur sebanyak lima hingga tujuh kali dalam satu musim peneluran, setiap bertelur penyu ini dapat mengeluarkan 75 hingga 120 butir telur.
Sang induk berlahan lahan mengeluarkan telurnya, telurnya berukuran lebih besar dibandingkan dengan telur penyu hijau, apalagi dibandingkan dengan telur penyu lekang. Setelah selesai bertelur sang induk biasa melakukan kamuflase, yaitu menggali-gali kembali pasir di sekitar sarang, tujuannya untuk mengecoh predator seperti babi, biawak dan bahkan manusia.
Ketika kamuflase dirasa cukup, sang induk pun bergerak perlahan ke arah bibir pantai. Siap kembali mengarungi samudra. Pergerakan penyu belimbing ini sangat luas, yaitu terdapat di Benua Asia, Eropa, Amerika selatan, Amerika Utara dan Benua Afrika, woow benar-benar warga dunia.
Saya benar-benar penasaran, apa saja pengalaman hidupnya yang telah dilalui oleh penyu belimbing yang terdapat di depan saya ini, apa dia pernah ketemu paus biru? Apa ia pernah tertangkap nelayan? Apa ketika remaja pernah dikejar-kejar hiu? Buanyaaak pertanyaaaan!
Saya hanya bisa mendoakan semoga penyu ini dapat kembali lagi ke Jamursba Medi di tahun berikutnya, dan tahun berikutnya dan berikutnya hingggaaaaa saatnya ia mati karena tua.
Related Posts
Pulau Durai, Surganya Penyu
DIVEBLOG : Mengupas Sumbawa
Sumbawaaaaaa! Daerah yang terkenal sama kuda greng dan madunya yang berkhasiat tinggi ini ternyata punya segudang potensi lain yang bisa dieksplor. Dari darat ke laut, dari pusat kota ke pedalaman, dari budaya modern sampai tradisional asik banget dikupas sama team Divemag Indonesia. Ada apa aja? Silakan balik halamannya dan cekbebiceeekkkk. *wink*
Mencapai Sumbawa itu gak susah, ada beberapa alternatif yang bisa dipilih, seperti menggunakan pesawat atau kapal ferry atau speed boat – bisa start dari Mataram, Bali ataupun Labuan Bajo. Sementara untuk angkutan dalam kota ada bus umum, cidomo, mobil rental atau ojek motor.
Sepertinya gak afdol yah jalan ke tempat baru kalau cuma diving dan gak eksplor darat dan kulinernya. Read More »
DIVEBLOG : ALORGASM
Mata kami berbinar, nyaris tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami. Ratusan lumba-lumba tampak bertaburan di lautan tenang, sesekali berenang dan berlompatan di sekitar perahu yang kami tumpangi.
Terlihat jelas bagian bawah tubuhnya yang berwarna merah muda, licinnya permukaan tubuhnya, hingga tatapan “ramah” seakan menyapa kami,: ” Selamat datang di Alor”.
Empat puluh lima menit terbang dari ibukota NTT, Kupang, Donovan Whitford dari DiveAlorDive.com tidak terlalu banyak bicara saat kami bertanya seperti apa rupa bawah laut Alor, ia hanya bilang : ” Nanti sajaa..lihat sendiriii..!”. “Bagus mana dengan Raja Ampat?” tanya salah satu peserta penyelaman, ” …Sudaaahh..nanti juga tahu sendirii..” katanya sambil senyum -senyum simpul dengan wajah mesum.. ;p Read More »
REPTIL KEBANGGAAN DERAWAN
Dari judulnya terjawab sudah apa yang akan saya ceritain di diveblog kali ini.. ya! Si penyu hijau dan penyu sisik penghuni Kepulauan Derawan.
Tak ada hari tanpa penyu, selama 10 hari disini, mulai dari hari pertama hingga hari kesepuluh, penyu dan penyuuu!. Mulai dari dermaga, di atas speed boat, pantai..pasti ngeliat yang namanya penyu. Read More »
DIVEBLOG : Suatu Malam di Bawah Makam