DIVEBLOG : PENYU BELIMBING

12Kembali saya menginjakkan kaki saya di tanah Papua, seakan tak pernah bosan dan tak pernah puas, Jelas! Tanah nan subur di timur Indonesia ini memang memiliki beragam keindahan alam yang sangat spekta!, tak lupa terdapat juga beragam flora dan fauna yang khas, berupa jenis Australasia.

Bersama dengan tim Jejak Petualang, Trans 7, kali ini saya berkesempatan untuk meliput mahluk yang sangat langka untuk ditemukan. Di antara “teman-temannya” dia adalah yang terbesarrr!, yap! Dia adalah penyu belimbing! Atau Dermochelys coriacea, Penyu terbesar di dunia!

Saya akan melihatnya di Pantai Jamursba Medi, tempat peneluran penyu belimbing terbesar di dunia, pantai ini terdapat di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Untuk mencapai Pantai Jamursba Medi, kota pertama yang harus disinggahi adalah Sorong, dari Sorong kita menggunakan kapal speed berkekuatan 500 PK selama empat jam!, sebenarnya pantai Jamursba masih berda di daratan Papua, namun karena jalan daratnya tidak memadai, maka jalur laut pun menjadi pilihan.

Empat jam bagaikan tak terasa, apalagi kalau bukan karena pemandangan kanan kiri yang begitu indah, balutan kanopi pepohonan pesisir menghiasi setiap alunan riak kapal, di depan mata saya betul betul terhampar sebuah nirwana. Papua gituu…

Akhirnya terlihatlah sebuah pantai berpasir hitam yang kami tuju ini, Jamursba Medi!. Di hamparan pasir sepanjang 18 kilometer inilah mahluk reptil raksasa dari samudra akan mendarat. Pantai ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Pantai Batu Rumah, Pantai wembrak dan Pantai Warmamedi. Di sini sudah ada tim WWF yang menyambut kami, diantaranya adalah Om Wally dan Daru.
Diantara para peneliti penyu, pantai ini sangat tersohor, Jamurba medi memang menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi oleh penyu belimbing untuk bertelur,hmm bangga saya jadi orang Indonesia, apalagi kalau bukan karena binatang yang telah mélanglang buana ke hampir seluruh dunia ini, memutuskan untuk bertelur di bumi pertiwi ☺ .
Bulan sudah mulai menampakkan sinarnya, saatnya saya bersama kru Jejak Petualang dan kru WWF bergegas menyusuri pantai, mencari mama belimbing yang naik ke atas untuk melaksanakan kodratnya. Tim Jejak Petualang terdiri dari mas Adi sebagai cameramen 1 (yang baru-baru ini melepaskan masa lajang, sah!!), ephit as cameramen 2 dan Hendra sebagai reporter,
Tak seberapa lama, di kegelapan malam, saya lihat bayangan penyu belimbing yang sedang bertelur. WOWWW! MEMANG SANGAT BESAAAAR INI PENYU!. Mungkin ada 2,5 kalinya penyu hijau!! . Dari hasil pengukuran diketahui panjang lengkung karapas adalah 168 cm dan lebarnya 122 cm. Beratnya? Misteri, karena kami tidak menimbangnya..tapi menurut perkiraan Daru, bisa mencapai setengah ton… wiiiiiihhhhh.

Terlihat cangkang khas penyu belimbing, terdapat garis yang lurus sepanjang tubuhnya, tidak terdapat garis melintang seperti penyu-penyu lainnya. Saya mencoba untuk menyentuh cangkang penyu ini, ternyata memiliki tekstur yang lembut, seperti kulit lembu! Tak heran dalam bahasa inggris, penyu ini kerap dipanggil leatherback seaturtle.

Induk penyu belimbing dapat naik ke pantai untuk bertelur sebanyak lima hingga tujuh kali dalam satu musim peneluran, setiap bertelur penyu ini dapat mengeluarkan 75 hingga 120 butir telur.

Sang induk berlahan lahan mengeluarkan telurnya, telurnya berukuran lebih besar dibandingkan dengan telur penyu hijau, apalagi dibandingkan dengan telur penyu lekang. Setelah selesai bertelur sang induk biasa melakukan kamuflase, yaitu menggali-gali kembali pasir di sekitar sarang, tujuannya untuk mengecoh predator seperti babi, biawak dan bahkan manusia.

Ketika kamuflase dirasa cukup, sang induk pun bergerak perlahan ke arah bibir pantai. Siap kembali mengarungi samudra. Pergerakan penyu belimbing ini sangat luas, yaitu terdapat di Benua Asia, Eropa, Amerika selatan, Amerika Utara dan Benua Afrika, woow benar-benar warga dunia.

Saya benar-benar penasaran, apa saja pengalaman hidupnya yang telah dilalui oleh penyu belimbing yang terdapat di depan saya ini, apa dia pernah ketemu paus biru? Apa ia pernah tertangkap nelayan? Apa ketika remaja pernah dikejar-kejar hiu? Buanyaaak pertanyaaaan!

Saya hanya bisa mendoakan semoga penyu ini dapat kembali lagi ke Jamursba Medi di tahun berikutnya, dan tahun berikutnya dan berikutnya hingggaaaaa saatnya ia mati karena tua.

This entry was posted in Dive Blog. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.

  • Twitter

    Twitter

    Facebook

    Facebook

    Script Like Box Facebook taruh Disini ×